Pengikut
Tensei Shitara Slime Datta Ken (WN) Chapter 85
Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal bahas kelanjutan epik dari dunia Tensura yang bener-bener bikin jantung mau copot. Bayangin aja, kabar tentang lahirnya kembali sang Naga Badai, Veldora, itu bukan cuma isapan jempol belaka. Kabar ini menyebar kayak api yang ditiup angin kencang ke seluruh penjuru Kekaisaran Suci Ruberion, pusat dari Gereja Orang Suci Barat. Suasana di sana? Kacau balau! Para pendeta tinggi lari tunggang langgang, dan kepanikan massal pecah di dalam gedung-gedung suci mereka yang megah. Mereka sadar kalau keseimbangan dunia baru saja hancur berkeping-keping. Di tengah badai kepanikan itu, kita melihat sosok yang sangat kita kenal, Sakaguchi Hinata. Awalnya, dia sudah siap tempur. Hubungan dengan tim penakluk yang dikirim ke Tempest sempat terputus, dan sebagai komandan yang teliti, Hinata tahu ada yang gak beres. Dia sudah mengencangkan pelindung tubuhnya, menyiapkan pedangnya, dan berniat langsung menyerbu ke arah Rimuru. Tapi, tepat saat dia mau melangkah keluar, sebuah perintah mutlak menghentikannya. Perintah itu datang dari eselon tertinggi yang bahkan jarang banget muncul di depan publik: Tujuh Orang Bijak Surgawi. Orang-orang ini bukan sembarang orang, guys. Mereka itu legenda hidup, makhluk yang sudah melampaui level pahlawan dan tugasnya biasanya cuma melatih para pahlawan baru di balik bayang-bayang. Hubungan Hinata dengan mereka pun sangat dalam; dia adalah murid terakhir dari ketujuh orang bijak ini. Bayangin, satu orang dilatih oleh tujuh legenda sekaligus! Gak heran kalau Hinata jadi sosok yang begitu mengerikan di medan tempur. Karena panggilan telepati dari para guru-gurunya ini, Hinata terpaksa menunda serangannya ke Tempest. Dan jujur aja, ini adalah keberuntungan besar buat Tempest, karena kalau Hinata menyerang saat Rimuru lagi gak ada, ceritanya mungkin bakal beda total. Tapi momen yang paling bikin merinding adalah saat utusan yang dikirim ke Tempest, yaitu Reihim, akhirnya kembali ke ibukota Ruberion. Tapi penampilannya? Jauh dari kata manusiawi. Dia datang dengan baju compang-camping, tubuh yang penuh kotoran, dan tatapan mata yang kosong seolah baru aja melihat neraka bocor ke dunia. Reihim dibawa masuk ke katedral pusat yang sangat suci, di bawah tatapan tajam ratusan Ksatria Templar dan Kardinal Nicholas. Saat Reihim melepas jubah kotornya di depan Hinata, seluruh ruangan langsung hening. Semua orang menutup mulut karena mual dan ngeri. Di seluruh permukaan kulit tubuh Reihim, muncul wajah-wajah manusia yang menonjol keluar! Ada yang berekspresi sedih, ada yang gila, dan ada yang tertawa mengejek. Reihim berteriak kalau ini adalah hukuman karena mereka telah membangkitkan kemarahan sang Raja Iblis. Dia mengakui dengan suara gemetar kalau mereka telah melakukan kesalahan fatal: menciptakan monster yang jauh melampaui logika mereka. Reihim menceritakan bagaimana 15.000 pasukan elit mereka dibantai habis dalam sekejap mata oleh satu monster tunggal. Dia menjelaskan tentang sihir cahaya yang jatuh dari langit—Megiddo—yang menembus segala jenis penghalang suci tanpa ampun. Para ksatria di ruangan itu mulai gemetar ketakutan, membayangkan monster macam apa yang bisa membunuh belasan ribu orang sendirian. Di dunia ini, monster yang bisa menghancurkan satu kota atau satu pasukan besar biasanya diklasifikasikan sebagai Peringkat S Khusus, setara dengan Guy Crimson atau Milim Nava. Dan sekarang, Rimuru telah masuk ke kategori tersebut. Ketegangan makin memuncak saat tiba-tiba dari dada Reihim muncul sebuah proyeksi sihir. Itu adalah pesan rekaman dari Rimuru Tempest. Di dalam rekaman itu, suaranya terdengar santai tapi sangat mengancam. Ada momen lucu di mana kita bisa mendengar suara Veldora atau Raphael di latar belakang yang lagi berdebat sama Rimuru soal desain pesan itu. Rimuru memberikan pilihan yang sangat jelas kepada gereja: bayar kompensasi atas penyerangan mereka dan minta maaf, atau Tempest akan meratakan mereka tanpa sisa. Rimuru bahkan menyapa Hinata secara pribadi dalam rekaman itu. Dia bilang, 'Hai Hinata, aku masih hidup lho. Lain kali kalau kita ketemu, aku bakal tunjukin kekuatan asliku.' Dia juga menjelaskan kalau wajah-wajah di tubuh Reihim itu adalah para Blood Shadows yang menyerang teman-temannya, yang sekarang dia jadikan undead untuk menderita selamanya. Mendengar itu, Hinata sadar kalau teknik andalannya, Disintegration, kemungkinan besar sudah dianalisis dan bisa ditangkal oleh Rimuru. Di akhir cerita, Hinata dengan dingin menggunakan sihir pemusnah untuk melenyapkan Reihim, memberikannya 'kematian yang tenang' sekaligus menghapus pesan mengerikan itu dari pandangan para bawahannya. Meskipun secara lahiriah Hinata terlihat tenang dan tetap memerintahkan pasukannya untuk tidak goyah, di dalam hatinya, dia mulai merasa ragu. Dia sadar kalau Rimuru mungkin benar-benar reinkarnasi orang Jepang yang jujur, tapi posisinya sebagai pemimpin gereja memaksa dia untuk terus maju ke arah konflik yang mungkin gak bisa dia menangkan. Ini bener-bener awal dari konfrontasi suci melawan iblis yang bakal epik banget, guys!
