Halo sobat BiliZone! Kembali lagi kita di alur cerita Tensura yang makin hari makin gila aja nih! Gak kerasa ya, setelah kita disuguhi pertarungan adu mekanik yang bikin jantung mau copot antara Rimuru dan Hinata, sekarang kita masuk ke babak yang jauh lebih dalam, penuh intrik politik, dan perubahan nasib yang bener-bener gak terduga! Chapter ini bener-bener gila, karena kita bakal liat bagaimana sang legenda Hinata Sakaguchi harus berhadapan dengan takdir yang ngeri banget. Siapkan jantung kalian, karena ini bukan cuma soal adu sihir, tapi soal pengkhianatan dan kebangkitan yang bakal bikin kalian melongo! Plot twist-nya bener-bener di luar nalar, Sobat!
Cerita dimulai dengan ketegangan tinggi di dalam ruang kelas. Fritz, yang menerima sinyal dari Hinata, langsung bergerak cepat ke tepi kelas. Tugasnya cuma satu: lindungi anak-anak bagaimanapun caranya. Dia melihat ke halaman sekolah dari lantai tiga, mencoba memvisualisasikan rute pelarian tercepat. Fritz adalah ksatria yang setia banget, baginya perintah Hinata itu mutlak. Kenapa? Karena Hinata gak pernah salah prediksi, kecuali waktu perang lawan Raja Iblis sebelumnya yang emang lawannya terlalu OP. Fritz merasa ada yang gak beres, intuisinya berteriak kalau ini bakal jadi misi pelarian yang berat, tapi dia gak punya pilihan selain percaya pada Hinata.
Di sisi lain, Hinata mengaktifkan persepsi spasialnya. Dia melihat seluruh layout sekolah dari langit. Fokusnya cuma dua: lindungi Fritz dan keempat anak itu agar tidak tertelan serangan. Namun, tantangan terbesarnya berdiri tepat di depannya. Sang 'Pahlawan' berjalan tenang, mendekat ke arah Yuuki. Hinata mulai menghitung peluangnya. Dia ingat Pahlawan inilah yang dulu menyegel Veldora sang naga badai. Gila banget kan? Hinata mikir, 'Bisa gak ya aku menang?' Secara matematis, peluangnya lawan naga aja kecil, apalagi lawan yang nyegel naga itu. Tapi Hinata melihat celah: Pahlawan baru bangun dari tidur puluhan tahun, kondisinya mungkin belum stabil, apalagi di bawah kendali Yuuki yang licik.
Hinata gak mau buang waktu. Dia langsung mengambil posisi 'Iai'—teknik menghunus pedang super cepat. 'Bind Slash! Astral Bind Slash!' teriaknya. Boom! Kilatan cahaya muncul, zat roh berkumpul menjadi ribuan bilah transparan yang bukan menyerang daging, tapi langsung mengunci jiwa lawan. Ini adalah teknik andalan Hinata untuk menyegel gerakan musuh. Tapi apa yang terjadi? Yuuki cuma duduk santai sambil bercanda! Dia menangkis gelombang kejut itu pakai 'Pedang Ular' (Snake Sword), senjata kelas legenda yang bisa menyerap damage. Meskipun bayangan Yuuki tertusuk dan dia terkunci di kursi, dia malah ketawa dan minta sang Pahlawan buat beresin Hinata. Gila, Yuuki bener-bener anggap ini cuma permainan!
Sang Pahlawan menjawab dengan suara dingin, 'Dimengerti. Meskipun aku akan membunuh, apa tidak apa-apa?'. Yuuki cuma jawab santai kalau Hinata gak mau jadi bawahannya, ya mending dibunuh aja. Kejam banget! Pahlawan itu bergerak seperti mesin pembunuh tanpa emosi, sebuah boneka yang hanya patuh pada perintah. Hinata merasa melihat bayangan dirinya yang dulu dalam diri Pahlawan itu. Dia pun berdoa dalam hati agar Fritz dan anak-anak segera kabur lewat gerbang teleportasi atau ke Gereja Saint terdekat. Tapi ternyata, di luar sana sudah ada Kagari alias Kazaream dan pasukannya yang memblokir semua rute! Fritz baru sadar kalau mereka terjebak dalam sangkar maut.
Kembali ke duel maut, Hinata mengeluarkan semua kemampuannya. Dia menyerang dengan sihir angin dari segala arah sambil mengayunkan katananya. Tapi Pahlawan itu punya 'Absolute Defense'! Semua sihir Hinata berubah jadi partikel cahaya tanpa efek. Bahkan teknik pedang Hinata yang legendaris itu bisa diprediksi dengan mudah. Crack! Katana Hinata hancur berkeping-keping dalam satu serangan balik. Ini sudah ketiga kalinya katananya patah. Hinata mulai terdesak, tapi dia belum menyerah. Semangatnya makin membara karena dia punya orang-orang yang harus dilindungi. Di saat kritis itu, 'Telur Pahlawan' dalam jiwanya mulai retak! Hinata mencapai puncak konsentrasinya dan melepaskan teknik terkuatnya: 'MELT SLASH!'
Serangan ini adalah teknik tercepat yang pernah dia buat, sebuah tebasan yang bisa melelehkan apapun. Fritz yang melihat dari jauh sampai gak bisa ngikutin gerakan pedangnya dengan mata telanjang. Dia bangga banget, yakin kalau Hinata bakal menang. Tapi Yuuki cuma bergumam, 'Pahlawan gak bisa kalah, karena dia itu Pahlawan.' Dan benar saja, sebuah tragedi terjadi. Sang Pahlawan membalas Melt Slash dengan teknik yang identik namun lebih cepat dan lebih kuat! Pedang Pahlawan mematahkan pedang Hinata, energinya merobek dimensi, dan puncaknya... jantung Hinata tertusuk telak.
Darah merah muncrat, Hinata ambruk sambil memuntahkan darah. Fritz berteriak histeris, suaranya parau menolak kenyataan. 'Uwaaaaaaaaaaa!' teriaknya sambil lari memeluk tubuh Hinata yang mulai mendingin. Hinata, dalam sisa kesadarannya, memberikan perintah terakhir: 'Fritz, segera kabur... gunakan sihir transfer selagi dimensi ini robek.' Dia gak mau kematiannya sia-sia. Tiba-tiba, Kenya, salah satu anak didik Rimuru, bergerak! Dia meniru teknik cahaya Hinata dengan pedangnya, berhasil memotong sedikit rambut Pahlawan sebagai pengalihan. Di saat yang sama, Alice mengaktifkan sihir manipulasi ruang. Cahaya menyilaukan muncul, dan dalam sekejap, Fritz, anak-anak, dan tubuh Hinata yang sekarat menghilang dari ruangan itu.
Yuuki cuma bisa menghela nafas, 'Yah, mereka kabur.' Dia gak kelihatan menyesal sama sekali dan langsung ngajak Pahlawan buat balik ke markas. Tapi di sini ada momen aneh: Pahlawan tanpa nama itu sempat melihat ke arah robekan ruang, matanya yang tadi kosong tiba-tiba memancarkan cahaya keinginan, seolah-olah ada kepribadian lain yang mulai bangun. 'Jadi, ini baru dimulai...' gumamnya pelan.
Sementara itu, di tempat yang jauh, Nicholas dan para Ksatria Suci berusaha menyelamatkan Hinata. Nicholas terus-menerus merapalkan 'Resurrection', sihir kebangkitan tingkat tinggi, tapi gak ada respon. Tubuh Hinata sudah jadi mayat. Hati Nicholas hancur, dia menolak percaya kalau pemimpin yang dipujanya sudah tiada. Namun, di dalam alam bawah sadar yang gelap, jiwa Hinata belum benar-benar hilang. Dia mendengar suara lembut. Ternyata itu adalah jiwa Chloe! Chloe memberitahu bahwa semuanya adalah harmoni yang sudah ditakdirkan. Untuk menjadi 'Pahlawan Sejati', jiwa mereka harus berasimilasi. Hinata sadar kalau dia harus mati di masa sekarang agar bisa bergabung dengan Chloe dan melompati waktu ke masa lalu untuk menjadi Pahlawan yang melegenda itu.
Ini plot twist yang bikin otak meledak! Ternyata Pahlawan tanpa nama yang menusuk Hinata adalah wujud masa lalu dari gabungan jiwa Hinata dan Chloe sendiri! Hinata akhirnya menerima takdir itu dengan senyuman kecil, berharap dengan cara ini dia bisa menyelamatkan Shizu-san dan orang-orang di masa lalu. Jiwa mereka pun bersatu dan melompati batas waktu, memulai perjalanan tanpa akhir melintasi sejarah. Di dunia nyata, kematian Hinata Sakaguchi secara resmi dikonfirmasi. Ini bukan akhir, tapi justru pembukaan dari era kekacauan besar yang akan mengguncang seluruh dunia Tensura! Gila banget kan, Sobat BiliZone? Penasaran gimana reaksi Rimuru kalau tahu Hinata tewas? Kita tunggu di chapter selanjutnya!
