Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal masuk ke sebuah babak yang bener-bener emosional sekaligus bikin kita mikir keras tentang apa itu keadilan yang sebenernya. Bayangin aja, sebelum kita bahas politik antar negara, kita dibawa ke sebuah kenangan pahit di bulan Juni yang panas banget. Ada dua saudara kembar, Yuuko dan Aiko. Si Aiko ini lagi seneng-senengnya karena baru aja dilamar sama cowok pujaannya, Yojiro. Mereka lagi asyik belanja gaun dan sepatu, aura kebahagiaannya tuh kerasa banget sampai ke kita yang baca. Tapi di balik tawa mereka, ada firasat nggak enak. Yuuko, si kakak yang kerja jadi perawat, mutusin buat balik ke rumah sakit karena ada pasien korban penusukan yang butuh perhatiannya. Aiko sempat ngeledek kakaknya, bilang kalau kakaknya itu terlalu serius kerja. Siapa sangka, itu adalah percakapan terakhir mereka. Senyum Aiko hari itu jadi memori terakhir yang tersisa karena setelah itu, Aiko nggak pernah kembali lagi. Tragedi ini bukan sekadar bumbu, tapi fondasi dari karakter yang bakal kita bahas: Hinata Sakaguchi.
Nah, sekarang kita pindah ke masa kini, di sebuah tempat yang disebut Kota Suci Ruberius. Tempat ini bener-bener kayak surga dunia, guys. Bayangin sebuah kota yang dilindungi penghalang suci tingkat tinggi selama ribuan tahun. Di sini, suhu udaranya diatur sempurna—nggak ada panas terik, nggak ada dingin yang menusuk. Cahaya matahari pun disaring supaya warga ngerasa nyaman. Nggak ada yang kelaparan di sini, semua orang punya pekerjaan, dan anak-anak dapet pendidikan yang sama rata. Hinata jalan di tengah kota ini menuju Kamar Suci Besar. Dia ngerasain kehangatan kota itu, tapi ada sesuatu yang ngeganjal di hatinya. Dia ngeliat warga yang selalu tersenyum tenang, tapi senyum itu justru bikin dia merinding. Kenapa? Karena senyum mereka itu seragam, seolah-olah mereka adalah boneka yang diprogram buat bahagia.
Hinata mulai bandingin Ruberius sama Kerajaan Ingracia. Ingracia itu kota yang sibuk, berisik, penuh sama ambisi dan kekacauan, tapi di sana ada kehidupan. Di Ingracia, kalau ada anak yang telat sekolah, mereka bakal lari-lari sambil ketawa, dan yang pinter bakal ngerasa bangga sama kemampuannya sendiri. Tapi di Ruberius? Anak-anak yang telat bakal dibantu sama yang lebih cepet bukan karena mereka mau, tapi karena itu adalah 'aturan' harmoni. Semua orang punya ekspresi yang sama: kepuasan yang hampa. Hinata baru sadar hal ini setelah dia denger omongan Rimuru tentang anak-anak. Si Slime itu ternyata berhasil nanam keraguan di hati Hinata yang sekeras baja. Hinata ngerasa kayak ada yang salah dengan idealismenya tentang 'Dunia yang setara tanpa perjuangan'.
Ketegangan makin naik waktu Hinata harus berhadapan sama Tujuh Orang Bijak Surgawi. Ini adalah guru-gurunya Hinata yang misterius banget. Biasanya mereka nggak pernah kumpul bareng, tapi berita tentang bangkitnya Naga Badai Veldora bikin mereka semua keluar dari persembunyian. Hinata ngerasa ada yang aneh. Kenapa baru sekarang? Kenapa saat Rimuru, seorang reinkarnasi Jepang yang jadi monster, mulai bangun kekuasaan yang bisa ngancem dominasi gereja? Hinata bener-bener dilema, guys. Di satu sisi, ajaran gereja bilang monster itu jahat dan harus dimusnahkan. Tapi di sisi lain, dia ngeliat Rimuru sebagai sosok yang mungkin punya visi lebih manusiawi daripada sistem kaku di Ruberius. Dia ngerasa tersesat dalam keyakinannya sendiri. Dia yang tadinya pengen ciptain dunia di mana nggak ada lagi anak yang dibuang kayak dia dulu, sekarang malah ragu apakah jalan yang dia tempuh selama ini sudah bener. Pertemuan dengan para Bijak Surgawi ini bakal jadi penentu apakah Hinata bakal tetep jadi pedang gereja, atau justru dia bakal mulai dengerin hati nuraninya sendiri dan ngeliat Rimuru bukan sebagai musuh, tapi sebagai jawaban yang selama ini dia cari.
Kalian tahu kan, Hinata itu sosok yang sangat pragmatis.
Berbeda banget sama ibunya yang fanatik buta sama agama, Hinata justru melihat
akidah sebagai alat. Dia nggak peduli sama konsep Tuhan selama hal itu berguna
buat mencapai tujuannya. Tapi kali ini, hatinya goyah, guys. Ada konflik batin
yang hebat antara logika dinginnya dengan ajaran Gereja Suci Barat yang selama
ini dia pimpin. Akhirnya, dia memutuskan buat minta petunjuk ke instrukturnya,
yaitu Tujuh Orang Bijak Surgawi. Bayangin, Hinata berdiri di depan pintu Kamar
Suci Agung dengan perasaan campur aduk, tapi dia tetap melangkah masuk dengan
tegas. Begitu masuk, udara di sekitarnya langsung berubah drastis karena dia
sudah berada di dalam penghalang pertahanan mutlak kekaisaran yang mustahil
ditembus orang biasa. Di sana, empat dari Tujuh Orang Bijak Surgawi sudah
menunggu dengan topeng-topeng misterius yang bikin kita nggak bisa baca
ekspresi mereka. Mereka bicara dengan nada yang aneh, seolah-olah satu kalimat
diucapkan bergantian oleh orang yang berbeda. Mereka langsung bahas soal
kembalinya naga badai Veldora yang dianggap sebagai bencana alam berjalan. Tapi
yang bikin suasana makin panas adalah kabar kalau Veldora sudah bekerja sama
dengan Raja Iblis baru yang baru saja membantai seluruh pasukan Kerajaan
Farmas. Hinata yang tadinya ragu karena tahu Raja Iblis itu adalah orang Jepang
juga seperti dirinya, langsung membuang jauh-jauh rasa kasihan itu. Dia merasa
manusia dan monster emang nggak akan pernah bisa hidup berdampingan. Dengan
penuh tekad, Hinata menyatakan kalau dia nggak akan lari dan bakal membawa
pulang kemenangan, nggak peduli lawannya itu naga atau raja iblis. Di momen
inilah, Hinata meminta izin buat menggunakan Senjata Spiritual, senjata rahasia
gereja yang cuma bisa dipakai oleh seorang Pahlawan. Awalnya para Sage tertawa
terbahak-bahak, sebuah tawa yang meremehkan sekaligus menguji, tapi melihat
keseriusan di mata Hinata, mereka akhirnya setuju. Hinata teringat sama
gurunya, Izawa Shizue, tentang apa artinya menjadi seorang pahlawan. Dia merasa
dirinya terlalu kejam buat jadi pahlawan yang baik hati, tapi dia bersumpah
bakal jadi 'pedang' yang menghancurkan semua monster demi melindungi umat
manusia. Dia pun menghunus sebuah pedang raksasa yang beratnya nggak masuk akal
buat ukuran manusia biasa. Bahkan atlet angkat besi pun nggak bakal kuat
mengayunkannya, apalagi Hinata yang badannya langsing dan spesialis rapier.
Tapi jangan salah, guys! Di sinilah letak kengerian Hinata. Dia menggunakan
skill unik 'Usurper' dan 'Mathematician' buat memanipulasi berat dan inersia
secara bersamaan. Dia bisa mengayunkan pedang raksasa itu secepat suara
seolah-olah itu cuma sebatang kayu ringan! Terakhir, dia mengaktifkan peralatan
suci paling legendaris, Saint Armor 'Holymail'. Armor ini ternyata selama ini
tersembunyi sebagai lapisan tipis di kulitnya dan hanya akan muncul saat dia
melepaskan seluruh kekuatannya. Dengan jubah dan armor suci yang bersinar,
Hinata berangkat menuju Tempest bukan lagi sebagai ksatria biasa, tapi sebagai
sosok Pahlawan penghancur yang siap meratakan apa pun di depannya. Gila banget
kan? Pertempuran besar sudah di depan mata!
