Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal bedah tuntas sebuah momen yang bener-bener gokil dan bakal jadi tonggak sejarah baru buat negara Tempest. Bayangin aja, setelah urusan diplomasi yang melelahkan dengan Fuze selesai, Rimuru pun memutuskan buat balik ke markas besarnya. Tapi cara pulangnya nggak biasa, guys. Rimuru pakai skill 'Perjalanan Spasial' yang bener-bener nggak masuk akal efisiensinya. Dia cuma butuh mikir mau ke mana, dan boom, dalam sekejap mata dia sudah pindah lokasi. Buat orang lain, skill ini mungkin bakal nguras tenaga banget, tapi buat Rimuru yang cadangan energi sihirnya nggak berseri, dia ngerasa kayak cuma narik napas doang. Gila banget kan kekuatan Raja Iblis kita yang satu ini? Nah, pas baru aja mau santai mendekati kota, tiba-tiba ada interupsi dari Gerudo lewat Telepati. Suaranya kedengeran serius banget, seolah ada masalah besar yang butuh tangan dingin Rimuru. Tanpa buang waktu, Rimuru langsung teleport lagi ke lokasi Gerudo, yaitu di area terowongan yang dulu sempet hancur lebur gara-gara ulah Veldora. Pas sampai di sana, pemandangannya bener-bener kacau. Potongan baja iblis atau Demon Steel bertebaran di mana-mana, nutupin reruntuhan terowongan yang belum sempet diberesin. Dan di tengah kekacauan itu, Rimuru ngelihat Gerudo lagi adu mulut sama sosok kecil yang sangat familiar. Siapa lagi kalau bukan Ramiris! Sosok peri yang dibilang Raja Iblis tapi kelakuannya kayak bocah ini lagi marah-marah nggak jelas. Dia ngeklaim kalau terowongan itu sekarang jadi wilayahnya cuma gara-gara dia baru aja keluar dari labirinnya dan nggak mau jadi gelandangan. Dia bahkan nyoba nyolong baja iblis diam-diam, tapi ketahuan sama Gerudo yang super teliti. Pas Ramiris mau ngancem bawa-bawa nama Beretta, Rimuru langsung gercep nyergap dia dari belakang. Momennya lucu banget, Ramiris langsung kaget setengah mati pas ngelihat muka Rimuru yang udah masang ekspresi 'ketahuan kan lu'. Ramiris cuma bisa ketawa canggung sambil nyari alasan, tapi Rimuru udah tahu banget kalau peri satu ini cuma pengen punya tempat tinggal baru yang keren. Tapi di sinilah jeniusnya Rimuru, guys. Alih-alih marah karena wilayahnya diserobot, dia malah kepikiran ide brilian yang berkaitan sama diskusi sebelumnya dengan Myormiles. Rimuru sadar kalau Tempest butuh daya tarik abadi supaya orang-orang terus datang berkunjung, nggak cuma pas festival aja. Dan boom! Ide buat bikin Dungeon alias Labirin bawah tanah pun muncul. Rimuru langsung nawarin kerja sama ke Ramiris: Ramiris jadi pengelolanya, Rimuru yang nyediain tempat dan fasilitasnya. Pas denger kalau dia bisa dapet duit dari sini, mata Ramiris langsung ijo, guys! Dia bahkan ngerasa ini kesempatan buat lepas dari julukan 'Raja Iblis Termiskin' atau NEET. Rimuru ngejanjiin pembagian keuntungan 20 persen, dan buat Ramiris yang biasa nggak punya duit, angka itu kedengeran kayak harta karun yang nggak akan habis tujuh turunan. Akhirnya, Rimuru, Gerudo, dan Ramiris mulai rapat serius buat nyusun cetak biru proyek raksasa ini. Mereka berencana ngebangun jalanan sepanjang 10 kilometer dari kota menuju labirin, lengkap dengan sistem transportasi kereta kuda yang rapi. Rimuru juga mikirin soal kebersihan kota, jadi dia nggak mau kuda-kuda itu masuk ke pusat kota dan bikin kotor. Sebagai gantinya, mereka bakal bangun motel dan penginapan di dekat labirin. Nggak cuma itu, Rimuru juga nentuin lokasi buat arena pertandingan atau Colosseum yang letaknya strategis banget di persimpangan jalan menuju kota. Dengan bantuan kemampuan analisis Raphael yang luar biasa, Rimuru bisa bikin desain bangunan yang super megah cuma lewat coretan tangan. Gerudo yang ngelihat rencana itu bener-bener kagum dan langsung siap sedia buat eksekusi pembangunan. Di akhir pembicaraan, Ramiris bener-bener kelihatan bahagia banget sampai melayang-layang nggak jelas, ngebayangin masa depannya yang bakal jadi orang kaya raya. Ini bener-bener awal dari babak baru di mana Tempest bakal berubah jadi pusat hiburan paling gila di dunia Tensura!
Ramiris yang biasanya ceria, tiba-tiba pasang muka serius yang belum pernah Rimuru lihat sebelumnya, seolah dia mau nunjukin kalau soal bikin labirin, dia adalah ahlinya. Rimuru langsung nembak dengan lima pertanyaan krusial yang bikin kita sadar betapa matangnya persiapan dia. Pertama, soal kedalaman lantai. Ternyata Ramiris sanggup bikin sampai 100 lantai di bawah tanah! Kedua, soal waktu pembangunan. Gila banget, berkat skill 'Labyrinth Creation' miliknya, labirin itu bisa jadi cuma dalam waktu satu hari atau bahkan sekejap mata. Ketiga, soal monster. Ramiris ngejelasin kalau monster bakal muncul secara alami tergantung konsentrasi energi sihir di sana. Keempat, soal desain interior. Ternyata tata letak lantainya bisa diubah-ubah, bahkan bisa dipasang peti harta karun untuk mancing para petualang. Dan yang paling penting, pertanyaan kelima: gimana kalau ada petualang yang mati? Ramiris dengan bangganya bilang kalau dia bisa bikin sistem di mana orang yang mati di dalam labirin bakal terlahir kembali di permukaan tanpa luka sedikit pun, asal mereka pakai item khusus buatannya. Rimuru langsung kegirangan dan muji Ramiris habis-habisan sampai peri kecil itu terbang melayang-layang penuh kebanggaan. Mereka berdua bener-bener kayak duo penjahat yang lagi ngerencanain konspirasi besar buat ngerampok kantong para petualang secara legal.
Setelah urusan sama Ramiris beres, Rimuru nggak berhenti di situ. Dia langsung nemuin Kurobee, sang ahli pandai besi legendaris di Tempest. Rimuru butuh 'sampah' berkualitas. Jadi gini guys, Kurobee punya banyak banget produk gagal atau prototipe baju zirah dan senjata yang nggak lolos QC tapi kualitasnya sebenernya masih jauh di atas barang-barang yang dijual di pasar umum. Item-item ini punya sifat unik, yaitu bisa nyerep energi sihir dan lama-lama berubah jadi 'Magic Item'. Rimuru punya ide brilian: dia mau masukin barang-barang ini ke peti harta karun di labirin dan dijagain sama monster kuat. Bayangin aja gimana hebohnya dunia petualang kalau denger ada dungeon yang isinya item-item kelas dewa kayak gitu! Rimuru nggak cuma mikirin labirinnya, tapi juga ekosistem di sekitarnya. Dia ngerencanain buat bikin kota penginapan di sekitar pintu masuk, tempat para petualang beli perlengkapan, makan, dan istirahat. Ini adalah strategi marketing tingkat tinggi supaya uang para petualang itu muter terus di Tempest. Tapi, buat bikin dungeon yang bener-bener menantang, Rimuru butuh satu elemen terakhir yang paling penting: yaitu sumber energi sihir murni yang meluap-luap. Dan siapa lagi kalau bukan sahabat terbaiknya, sang Naga Badai Veldora.
Rimuru kemudian pergi nemuin Veldora yang lagi asyik rebahan sambil baca manga di kamarnya. Dengan gaya manipulasi khasnya, Rimuru pura-pura mau minta bantuan tapi bilang kalau Veldora lagi sibuk, dia bakal minta tolong ke Diablo aja. Mendengar nama Diablo disebut, harga diri Veldora langsung terpancing! Dia langsung nutup manganya dan nanya ada apa. Rimuru ngejelasin kalau dia butuh 'Wali Terkuat' buat lantai ke-100 labirin. Dia pengen Veldora tinggal di sana dan ngelepasin auranya secara bebas. Sebenarnya ini adalah trik Rimuru supaya aura Veldora nggak meledak di tengah kota, sekaligus buat nyiptain lingkungan dengan konsentrasi sihir tinggi yang bisa memicu kelahiran monster-monster kuat secara alami. Veldora yang dasarnya emang haus perhatian langsung ngebayangin gimana kerennya dia pas nyambut petualang yang berhasil sampai ke lantai 100 dengan kalimat-kalimat dramatis yang dia pelajarin dari manga. Dia bahkan ngebayangin pertarungan simulasi yang seru banget. Tanpa sadar, sang Naga Badai yang legendaris itu udah masuk ke dalam jebakan 'pekerjaan' Rimuru dengan senang hati. Keesokan harinya, proyek itu bener-bener terealisasi. Labirin 100 lantai selesai dibangun dengan sistem 'Save Point' setiap 10 lantai supaya petualang nggak perlu ngulang dari awal. Rimuru dan Ramiris juga nyiapin 'Resurrection Charm' atau jimat penghidup kembali dan item pelarian darurat yang bakal dijual di pintu masuk. Rimuru bener-bener mikirin segala aspek keselamatan, meskipun dia juga tahu kalau ada petualang yang sok jago dan nggak beli jimat itu, ya risiko ditanggung sendiri. Di akhir babak ini, kita bisa lihat Rimuru, Ramiris, dan Veldora saling tatap-tatapan dan ketawa jahat bareng, siap buat memulai bisnis dungeon yang bakal bikin seluruh dunia gempar!
.jpg)