Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal bedah tuntas kelanjutan perjalanan Hinata Sakaguchi yang bener-bener lagi ada di titik nadir keyakinannya. Namun sebelum masuk ke tensi yang makin panas, ada sedikit intermezzo kocak dari balik layar nih. Bayangin aja, di tengah situasi genting, Smoggy dapet surat dari sepupunya yang bener-bener absurd. Si sepupunya ini, Beruang Pedo, malah ngejek Smoggy yang sempet kabur dari kebun binatang dan viral karena insiden es. Surat itu penuh dengan omongan soal 'budaya animasi' dan kesukaan mereka sama karakter loli. Smoggy yang malu banget langsung buru-buru makan itu surat pake madu biar nggak dibaca sama Yuuka. Benar-benar jeda yang aneh sebelum kita masuk ke badai yang sesungguhnya.
Sekarang, kita geser fokus ke Hinata Sakaguchi. Suasana di perkemahan ksatria suci bener-bener tegang, guys. Posisi mereka sekarang tinggal satu hari perjalanan lagi dari Tempest, negara monster yang jadi target mereka. Hinata duduk terdiam, mencoba memulihkan tenaganya, tapi pikirannya nggak bisa tenang. Pertemuan terakhir sebelum penyerbuan pun dimulai. Hinata ngerasa ada yang nggak beres. Dia ngeliat pasukannya, seratus ksatria suci yang semuanya punya kekuatan setara seribu orang biasa. Di mata mereka, monster itu cuma hama yang harus dibasmi sesuai doktrin gereja. Tapi Hinata beda, dia punya insting tajam yang bilang kalau kali ini, lawan mereka bukan monster biasa yang cuma modal otot.
Hinata bener-bener perfeksionis. Dia nggak mau ada korban jiwa sedikitpun di pihaknya, meskipun itu artinya dia harus pake cara-cara licik atau pengecut sekalipun. Dia tahu, menang itu wajib, tapi harga yang dibayar harus semurah mungkin. Para ksatria suci ini sebenernya udah pede banget. Mereka punya lima kapten elit dan dua wakil kapten yang haus gelar terkuat. Strategi mereka udah mateng: mereka bakal pasang penghalang kubik yang super kuat buat mengurung pasukan monster. Kalaupun ada gangguan, mereka udah siapin formasi cadangan berbentuk segitiga atau pentagonal. Intinya, mereka mau bikin penjara sihir yang nggak bisa ditembus sama sekali.
Nah, yang bikin merinding itu detail perlengkapan mereka, guys. Para ksatria ini nggak pake baju besi kaleng-kaleng. Mereka pake 'Holy Mail' alias baju besi roh. Bayangin, baju besi ini kuatnya minta ampun tapi beratnya seringan bulu karena menyatu sama kontrak roh mereka. Senjata yang mereka bawa juga bukan pedang biasa, tapi senjata suci yang bisa nembus pertahanan monster manapun dan ngasih damage murni yang bener-bener fatal. Sepuluh orang dengan perlengkapan begini aja udah bisa nundukin naga, apalagi seratus orang. Mereka bener-bener ngerasa nggak terkalahkan, bahkan kalau harus lawan Arch Demon sekalipun.
Tapi di tengah rasa percaya diri anak buahnya, Hinata malah makin gelisah. Dia mandang ke arah padang terbuka yang bakal jadi medan tempur. Di situ dia ngerasa ada yang aneh. Medannya terlalu 'sempurna'. Terlalu menguntungkan buat mereka untuk masang jebakan, tapi justru karena terlalu sempurna itulah Hinata curiga kalau dia sebenernya lagi menari di atas telapak tangan seseorang. Dia mulai ragu, apakah ini bener-bener keputusan yang tepat? Rasanya kayak semua pergerakan mereka udah diprediksi sama musuh. Tapi sebagai pemimpin, dia nggak boleh kelihatan goyah.
Hinata akhirnya berdiri dan teriak, 'Perhatian!' Seketika suasana jadi sunyi senyap. Dia ngasih perintah baru yang bikin para ksatria itu kaget. Dia ngerombak rencana awal. Tim umpan dikasih peringatan keras kalau kemungkinan besar mereka bakal masuk ke jebakan. Hinata memerintahkan para kapten buat fokus ngelindungin wakil kapten yang lagi jaga penghalang. Dia bilang, 'Jangan sombong! Kalau situasi memburuk, prioritaskan nyawa kalian, batalin penghalangnya dan bertarung buat bertahan hidup!' Ini bener-bener perintah yang nggak biasa keluar dari mulut Hinata yang biasanya kaku sama aturan.
Insting Hinata bilang kalau musuh bakal nyebar pasukannya. Dia nggak mau anak buahnya mati konyol cuma karena harga diri yang ketinggian. Dia juga nekenin kalau nggak bakal ada bantuan tambahan, jadi mereka harus pinter-pinter jaga diri. Sementara anak buahnya bertugas sebagai umpan dan penahan pasukan monster, Hinata sendiri yang bakal maju buat satu tujuan utama: membunuh jenderal musuh, alias Rimuru Tempest. Dia sadar, satu-satunya cara buat nyelesein kekacauan ini adalah dengan duel satu lawan satu. Dengan mata yang tajam dan tekad yang udah bulat, Hinata menutup rapat pertemuan itu. Para ksatria suci yang tadinya sombong, sekarang mulai sadar kalau ini bukan sekadar pembersihan monster biasa, tapi perang hidup dan mati yang bakal nentuin nasib mereka selamanya.
Kita lanjutin perang antara pasukan Rimuru melawan para
Ksatria Suci yang bener-bener makin gila dan nggak terduga! Bayangin aja, sudah
dua minggu berlalu sejak jadwal pertemuan yang harusnya tenang, tapi suasana
justru makin mencekam. Hinata Sakaguchi, sang Kapten Ksatria Suci, datang nggak
main-main. Dia dengan pedenya—atau mungkin terlalu sombong—menembakkan bola api
ke langit sebagai tanda kedatangannya. Rimuru sampai geleng-geleng kepala,
antara kagum sama rasa percaya diri Hinata atau mikir ini orang emang agak
nekat. Tapi rencana tetaplah rencana, dan Rimuru sudah menyiapkan segalanya.
Namun, di luar dugaan, kekacauan justru pecah sebelum duel
utama dimulai. Pasukan Ksatria Suci yang berjumlah 60 orang itu menyerang
dengan formasi penuh, tapi mereka nggak tahu kalau mereka sedang masuk ke dalam
mulut singa. Pasukan Yomigaeri pimpinan Shion langsung bentrok dengan mereka.
Di sini pemandangan jadi horor banget buat para Ksatria Suci. Bayangkan,
serangan pedang dan sihir suci mereka yang biasanya mematikan, tiba-tiba nggak
berefek sama sekali! Para Ksatria itu teriak-teriak nggak percaya, 'Ini
mustahil! Mereka bukan undead, tapi kenapa nggak mati?!' Ya, itulah ngerinya
pasukan Yomigaeri. Mereka menggunakan tubuh mereka sendiri sebagai umpan,
membiarkan diri mereka ditebas hanya untuk bisa mendekat dan melukai para
ksatria itu dengan pisau yang sudah dilapisi obat tidur super kuat. Hanya dalam
waktu kurang dari tiga menit, guys! Tiga menit saja, pasukan elit gereja itu
tumbang berjatuhan seperti lalat. Pasukan serigala langsung gerak cepat
mengikat bayangan mereka, menyegel semua gerakan mereka tanpa ampun.
Di sisi lain, Rimuru yang memantau lewat jaringan bayangan
Souei cuma bisa melongo melihat betapa bar-barnya bawahannya. Diablo yang
melayang di udara cuma bisa tersenyum gelap, seolah-olah dia sedang menonton
pertunjukan komedi yang menghibur. Sementara itu, Shion mulai beraksi dengan gaya
diktatornya yang bikin merinding. Dia mengancam Gobuta dan Gabil yang sempat
ragu dengan strategi awal. Shion bilang, 'Kalian mau coba masakan terbaru aku
kalau nggak becus kerja?' Mendengar itu, Gobuta dan Gabil langsung lari
ketakutan dan bertempur kayak orang kesurupan! Souei juga nggak tinggal diam,
dia bersama timnya langsung bergerak presisi menekan skuadron kecil lawan yang
mencoba memasang penghalang sihir. Semuanya bergerak di luar skenario awal
Rimuru, tapi hasilnya justru bikin lawan kocar-kacir.
Belum selesai kejutan di sana, Ranga tiba-tiba bangun dari
tidurnya dengan aura yang bener-bener mengerikan. Dia bilang ingin 'olahraga
ringan', tapi Rimuru tahu kalau Ranga bilang begitu, itu artinya bencana buat
musuh. Rimuru cuma bisa berdoa dalam hati, semoga para Ksatria Suci itu
setidaknya masih bisa pulang dalam keadaan utuh. Shion sendiri, setelah
memastikan semuanya beres, menatap Rimuru dengan tatapan yang haus akan
pertempuran, menjilat bibirnya dengan ekspresi yang bikin suasana makin intens,
sebelum akhirnya melesat ke langit meninggalkan debu yang beterbangan.
Akhirnya, kita sampai pada momen yang paling ditunggu:
konfrontasi final antara Rimuru dan Hinata. Suasana di sekitar mereka tiba-tiba
jadi sunyi senyap, seolah alam semesta pun nggak berani mengganggu duel dua
sosok kuat ini. Hinata yang awalnya terlihat penuh beban dan pahit, tiba-tiba
tertawa lepas. Dia sadar kalau secara taktik dia sudah kalah telak. Semua
rencana rumitnya dipatahkan oleh kekuatan mentah dari bawahan Rimuru. Di momen
itu, wajah Hinata berubah, dia terlihat lebih muda, lebih alami, persis seperti
siswi SMA tanpa beban doktrin gereja di pundaknya. Dia menantang Rimuru untuk
duel satu lawan satu secara jantan. 'Jika kamu menang, aku akan mendengarkanmu,
aku akan percaya bahwa monster dan manusia bisa saling memahami,' ucapnya
dengan mata yang jernih. Rimuru tanpa ragu menerima tantangan itu. Dia ingin
membuka mata Hinata sekali dan untuk selamanya. Dan dengan janji itu,
pertarungan terdahsyat antara sang Raja Iblis Lendir dan sang Kapten Ksatria
Suci pun dimulai!
