Pengikut

Tensei Shitara Slime Datta Ken (WN) Chapter 96 Bahasa Indonesia

 Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal bedah tuntas momen setelah badai besar yang baru saja menghantam Tempest. Kalian ingat kan, gimana gila-gilaannya pertarungan Rimuru melawan Hinata Sakaguchi? Nah, setelah tensi yang bikin jantung mau copot itu mereda, sekarang waktunya Rimuru buat beresin kekacauan yang tersisa. Dan percayalah, bagian ini nggak kalah seru karena kita bakal lihat gimana diplomasi unik ala Rimuru bekerja! Jadi, hal pertama yang Rimuru lakuin adalah manggil Gerudo. Si Raja Orc yang sekarang jadi andalan pembangunan infrastruktur kita ini langsung turun tangan bareng pasukan Yellow Numbers-nya. Kalian tahu sendiri kan, gimana disiplin dan efisiensinya unit konstruksi ini? Mereka bener-bener punya kemampuan manufaktur yang di luar nalar. Rimuru minta mereka buat balikin keadaan sekitar jadi normal lagi. Meskipun sebenernya Gerudo ini agak kesel ya karena nggak dapet jatah bertarung kali ini, tapi sebagai bawahan yang paling setia dan rajin, dia tetep terima tugas itu dengan senang hati. Bayangin aja, terowongan yang diperkuat baja iblis yang sebelumnya mereka bangun capek-capek buat strategi pertahanan, ternyata nggak jadi dipake karena Hinata milih duel satu lawan satu. Karena Rimuru ini orangnya hemat dan tahu kalau baja iblis itu barang mahal yang susah dicari, dia minta Gerudo buat bongkar dan timbun lagi terowongan itu. Jangan sampai ada material berharga yang kebuang sia-sia, kan? Tapi, pas lagi asik-asiknya ngatur proyek pembersihan ini, tiba-tiba ada satu pikiran yang lewat di otak Rimuru dan bikin dia langsung pucat pasi. Sesuatu yang sangat serius, sangat berbahaya, dan bener-bener bisa jadi bencana kalau terlupakan. Rimuru bergumam pelan, 'Sial... aku lupa soal Veldora...' Dan BOOM! Begitu kata-kata itu keluar, suasana di sekelilingnya langsung berubah jadi hening yang mencekam. Para kepala departemen atau eksekutif Tempest yang ada di sana langsung membeku, guys! Mereka saling pandang satu sama lain dengan mata yang penuh ketakutan, seolah-olah lagi ngirim sinyal: 'Mati kita, siapa yang berani ngadepin naga itu kalau dia ngamuk?'. Sementara itu, para ksatria suci yang ada di sana cuma bisa melongo bingung. Mereka nggak ngerti kenapa monster-monster kuat ini tiba-tiba ketakutan cuma karena satu nama. Rimuru coba cari dukungan, dia ngeliatin bawahan-bawahannya satu per satu, tapi apa yang terjadi? Semuanya langsung buang muka! Nggak ada satu pun yang berani kontak mata sama Rimuru. Lucu banget sih, di medan perang mereka kayak singa, tapi pas disuruh ngadepin Veldora yang lagi ngambek, mereka langsung jadi kucing penakut. Akhirnya, Rimuru pasrah. Dia sadar nggak mungkin nyuruh orang lain buat jadi tumbal. Dengan berat hati, Rimuru mutusin buat pergi sendiri nemuin Veldora buat ngejelasin kalau 'permainannya' udah selesai. Sebelum pergi, Rimuru nyuruh bawahan lainnya buat istirahat. Dia juga nawarin hal yang nggak terduga ke para ksatria suci: 'Kalian semua, mandi dan santailah.' Bayangin reaksi para ksatria itu, guys! Mereka ngeliatin Rimuru seolah-olah Rimuru itu alien. Maklum, di dunia mereka, monster itu identik sama kotor dan buas, mana ada sejarahnya monster punya budaya mandi atau onsen yang mewah. Apalagi para ksatria yang tadi partneran sama Ranga, pakaian mereka udah robek-robek tinggal celana dalem doang gara-gara keganasan serigala Tempest itu.



 Rimuru yang emang otaknya bisnis banget, malah kepikiran buat promosiin produk baru negaranya. Dia mau ngasih mereka jaket dari serat rami yang baru dikembangin, dan buat para ksatria cewek, dia udah nyiapin yukata yang cantik. Bener-bener strategi marketing yang gila di tengah suasana perang! Sambil ngatur soal pakaian, Rimuru juga merhatiin Shion. Ternyata Shion juga nggak pake armornya, tapi hebatnya dia bisa manggil pakaian sihir sesuka hati. Rimuru mutusin buat nyerahin urusan para ksatria ini ke Hakurou dan Souei biar disampaikan ke Rigurdo. Tujuannya jelas: siapin pemandian air panas dan pesta besar alias perjamuan! Nah, sementara urusan kota mulai tertata, Rimuru akhirnya nyampe ke tempat Veldora. Dan bener aja, si naga badai ini udah dalam mode ngambek level maksimal. Karena ngerasa di-ghosting sama Rimuru, Veldora langsung meledakkan terowongan tempat dia nunggu dan terbang tinggi ke langit. Dengan wujud naganya yang megah tapi menyeramkan, dia ngelepasin auranya yang bikin atmosfer bergetar. Dia seolah-olah mau bilang ke seluruh dunia kalau dia lagi marah besar! Rimuru cuma bisa tepok jidat, tapi dia bersyukur karena setidaknya Veldora cuma pamer aura, nggak langsung nembak nuklir ke kota. Tapi buat para ksatria suci yang baru aja mau napas lega setelah kalah perang, pemandangan Veldora di langit itu bener-bener kayak mimpi buruk jadi nyata. Mereka yang tadinya sombong, sekarang cuma bisa teriak 'Geeeeh!! Veldora!!' atau bahkan cuma bisa gumam 'Abababababa' karena saking syoknya. Rimuru sempet mikir, apa ini bagian dari rencana Raphael buat nakut-nakutin lawan ya? Tapi dia mikir lagi, kayaknya nggak mungkin Raphael bisa prediksi kalau Veldora bakal se-drama itu. Singkat cerita, ketakutan itu justru bikin posisi Tempest makin nggak tergoyahkan. Siapa yang berani macem-macem sama negara yang punya naga kiamat sebagai penjaganya? Setelah 'menjinakkan' Veldora, Rimuru balik ke kota. Di sana, Rigurdo udah sibuk banget kayak panitia hajatan paling rajin sedunia. Yang bikin Rimuru kagum, Rigurdo ini bener-bener detail.

 Dia bahkan nanyain ke para ksatria apakah mereka punya pantangan makanan gara-gara aturan agama atau kepercayaan tertentu. Luar biasa kan? Diplomasi lewat perut ini emang spesialisasi Tempest. Rigur juga udah makin dewasa, dia bareng Gobuta bener-bener jadi tangan kanan yang bisa diandelin buat urusan logistik. Pesta itu diadakan di sebuah gedung besar berbentuk kubah yang baru dibangun, mirip gimnasium raksasa. Rimuru emang punya visi jauh ke depan; gedung itu nggak cuma buat pesta, tapi didesain kuat buat jadi tempat evakuasi kalau ada bencana. Strukturnya diperkuat baja, dan rencananya bakal diganti total pake baja iblis biar makin kokoh. Dan sekarang kita masuk ke bagian yang paling bikin laper: makanan! Rimuru bener-bener niat buat ngerubah selera makan dunia ini. Dia ngeliat meja-meja penuh dengan kerajinan keramik buatan anak-anak Tempest yang warnanya cantik-cantik banget berkat eksperimen ramuan medis. Tapi bintang utamanya adalah Tempura! Ya, masakan Jepang favorit Rimuru. Berkat ingatan Rimuru dan tangan dingin Shuna, Tempura ini jadi mahakarya yang bikin siapa pun bakal ketagihan. Rimuru tegas ya, dia nggak mau Shion yang masak, karena kalian tahu sendiri kan kalau Shion masak itu lebih kayak bikin senjata kimia daripada makanan. Shuna bener-bener kerja keras buat ngewujudin rasa otentik Jepang, mulai dari bikin bonito kering sampai ngirim ikan seger langsung dari laut pake sihir transportasi ruang. Rimuru ngerasa semua kerja kerasnya selama ini terbayar lunas. Dari yang dulu cuma slime yang makan rumput di gua, sekarang dia jadi raja iblis yang bisa menikmati kuliner kelas atas bareng rakyatnya dan bahkan mantan musuh-musuhnya. Ini bukan cuma soal kemenangan militer, guys, tapi ini adalah kemenangan budaya dan peradaban!

Rimuru itu punya filosofi hidup yang simpel tapi dalem banget, menurutnya sebuah negara itu nggak ada gunanya kalau variasi makanannya buruk. Baginya, di antara tiga kebutuhan dasar manusia—sandang, pangan, dan papan—pangan adalah rajanya. Dan di babak ini, kita bakal melihat gimana ambisi Rimuru buat mereproduksi cita rasa Jepang di dunia fantasi bener-bener mencapai level yang nggak masuk akal.

 

Masalah utama yang bikin Rimuru pusing tujuh keliling adalah nasi putih. Kalau gandum sih gampang, dia sudah sering lihat orang kaya di ibu kota kerajaan makan roti putih yang enak, jadi bikin replikanya itu perkara kecil. Tapi nasi? Ini tantangan beda level. Rimuru sampai bela-belain nyari tanaman yang mirip padi ke mana-mana. Masalahnya, padi di dunia itu belum melewati proses pemuliaan ribuan tahun kayak beras di Jepang, jadi rasanya hambar dan nggak memuaskan. Di sinilah Rimuru mulai pakai cara 'curang' tapi jenius. Dia tanya ke Raphael, asisten super pintarnya, gimana cara memperbaiki kualitas beras ini secara instan. Jawaban Raphael bener-bener di luar nalar: gunakan skill Master Chef milik Shion untuk mengubah sifat tanaman secara permanen! Tapi Rimuru nggak mau Shion jadi besar kepala, makanya dia sendiri yang turun tangan memodifikasi porsi nasinya sendiri dan sekarang, khusus buat tamu para ksatria suci, dia juga nyiapin nasi kualitas premium itu.

 

Nggak cuma itu, ada eksperimen gila lainnya. Rimuru mencoba menanam padi di air yang kaya energi sihir. Hasilnya? Muncul beras yang warnanya hitam pekat kayak tinta cumi-cumi. Namanya 'Nasi Iblis'. Bagi manusia, nasi ini beracun karena kandungan sihirnya terlalu tinggi, tapi bagi monster? Ini adalah makanan super dengan nilai gizi luar biasa yang bisa nyimpen energi magis. Inilah yang akhirnya jadi makanan pokok di Tempest. Sambil nunggu persiapan pesta selesai, Rimuru bener-bener nggak sabar mau pamer ke para ksatria suci yang sombong itu lewat strategi 'Wortel dan Tongkat'. Hancurkan mental mereka dengan kekuatan, lalu jinakkan hati mereka dengan makanan enak. Dan jujur aja, rencana ini berjalan lebih mulus dari yang dia bayangkan.

 

Suasana makin pecah saat para ksatria suci keluar dari pemandian air panas. Mereka nggak lagi pakai baju besi yang berat, tapi pakai Yukata dan jaket jersey khas Tempest yang nyaman banget. Bayangin, para ksatria yang tadinya kaku sekarang kelihatan rileks banget. Tapi yang paling bikin jantung Rimuru (dan mungkin kita semua) mau copot adalah momen saat Hinata Sakaguchi muncul. Hinata, sang komandan ksatria yang dingin dan mengerikan itu, tiba-tiba berjalan ke arah Rimuru dan menunduk dalam-dalam. Dia minta maaf secara resmi atas semua masalah yang dia buat. Hinata bilang dia sadar sudah salah besar karena menganggap semua monster itu jahat.

 

Pas Hinata nunduk ini, Rimuru sempet 'salah fokus', guys! Dia ngelihat pemandangan yang nggak terduga di balik yukata Hinata yang longgar. Rimuru dalem hati teriak kalau dia itu laki-laki normal yang nggak bisa melupakan 'panasnya petualangan'! Tapi tentu aja, momen canggung itu langsung dipatahkan sama Shuna yang tiba-tiba muncul dengan senyum manis tapi aura di belakangnya itu horor banget. Shuna kayak punya radar kalau Rimuru lagi mikir yang aneh-aneh. Rimuru yang ketakutan langsung ngalihin pembicaraan dan nyuruh Hinata buat minta maaf langsung ke Shion dan para Yomigaeri, karena merekalah korban sebenernya dari serangan Gereja.

 

Momen itu bener-bener emosional. Hinata bener-bener tulus sampai para ksatria bawahannya juga ikut nangis dan minta maaf bareng-bareng. Shion yang tadinya kelihatan benci banget sama manusia, akhirnya luluh setelah Rimuru kasih nasihat kalau manusia itu makhluk yang bisa belajar dari kesalahan. Shion dengan gaya kerennya bilang kalau mulai sekarang, dia bakal menilai seseorang dari jiwanya, bukan dari rasnya. Setelah perdamaian tercapai, pesta pun dimulai! Dan ini dia bagian yang bikin laper: Rimuru ngeluarin senjata rahasianya. Bir dingin yang berkarbonasi sempurna, jauh lebih enak dari bir suam-suam kuku yang ada di kerajaan manusia. Ada sashimi juga, lengkap dengan bumbu pengganti kecap asin yang lagi dikembangkan.

 

Ada kejadian lucu pas salah satu ksatria nggak sengaja makan Nasi Iblis yang item itu. Rimuru sempet panik karena mikir itu racun buat manusia, tapi ternyata karena ksatria itu sudah sangat kuat dan lagi kelelahan, nasi itu justru jadi obat pemulih energi sihir yang instan! Ksatria yang lain bukannya takut malah rebutan pengen nyoba. Suasana pesta makin hangat, monster dan manusia makan bareng, ketawa bareng, seolah-olah perang yang tadi pagi terjadi itu cuma mimpi buruk yang sudah lewat. Rimuru yang melihat pemandangan ini ngerasa kalau inilah tujuan dia sebenernya: melindungi kedamaian di mana semua orang bisa makan enak dan bahagia.

 

Tapi namanya juga pesta di Tempest, nggak lengkap kalau nggak ada kekacauan kecil. Arnaud, ksatria terkuat setelah Hinata, tiba-tiba nanya pertanyaan yang memancing keributan: 'Siapa sih yang paling kuat di negara ini?' Waduh! Pertanyaan itu langsung bikin suasana yang tadinya santai jadi tegang seketika. Para eksekutif Rimuru—Benimaru, Shion, Diablo, sampai Geld—langsung masang muka serius. Mata mereka berapi-api! Rimuru yang saat itu lagi agak 'mabuk' suasana, ditambah Veldora yang kompor banget, malah ngasih ide gila: 'Gimana kalau kita adain turnamen aja buat nentuin siapa yang terkuat?'

 

Begitu kata 'Turnamen' keluar dari mulut Rimuru, Diablo langsung ketawa elegan tapi ngeri, Shion langsung semangat, dan Benimaru nggak mau kalah. Mereka semua setuju buat ikut tanding habis-habisan! Rimuru baru sadar kalau dia baru saja nyalain sumbu bom, tapi semuanya sudah terlambat. Pengumuman Turnamen Tempest pun resmi diputuskan di tengah pesta itu. Babak baru yang penuh aksi gila-gilaan bakal segera dimulai, dan kita tahu kalau Tempest nggak akan pernah sama lagi setelah ini!