Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal masuk ke sebuah babak yang bener-bener gelap dan penuh dengan intrik di balik layar yang nggak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Bayangkan saja, di tengah ketegangan yang sudah memuncak, cerita kita kali ini dibuka dengan suasana yang bener-bener bikin merinding. Di sebuah laboratorium yang sunyi, ada sosok misterius mengenakan jas lab putih yang sedang berdiri, melayang dengan aura yang sangat tidak beres di atas seorang gadis yang tak berdaya. Gadis itu sedang tertidur lelap, tapi bukan tidur biasa, melainkan karena pengaruh obat bius yang sangat kuat. Tatapan pria itu gila, guys. Pupil matanya melebar, napasnya terengah-engah, dan dia seolah sedang menahan hasrat yang bener-bener liar. Dia membisikkan nama 'Aikoku' dengan nada yang sangat posesif, seolah ingin memeluknya kembali. Ternyata, gadis yang ada di depannya ini adalah saudara kembar dari seseorang yang dia cintai, dan dia merasa mereka itu sama saja. Bayangkan betapa psikopatnya orang ini, dia bahkan merasa menyesal karena insiden di masa lalu yang membuat rencananya berantakan. Dia berencana mengadakan sebuah pesta gila lagi dengan mengundang tamu-tamu yang sama. Dan sebelum dia pergi, dia mencium pipi gadis itu dengan lembut namun penuh kengerian. Sumpah, ini pembukaan yang bener-bener bikin kita bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang ini dan apa hubungannya dengan konflik besar yang akan terjadi? Nah, setelah adegan menyeramkan itu, kita beralih ke sosok Hinata Sakaguchi yang baru saja meninggalkan rumah bagian dalam. Begitu Hinata pergi, muncullah empat orang tua yang dikenal sebagai Tujuh Orang Bijak Surgawi. Mereka ini licik banget, guys. Mereka membicarakan Hinata seolah-olah dia itu cuma barang pajangan yang nggak berguna. Mereka bilang Hinata itu menyedihkan karena menganggap dirinya seorang pahlawan, padahal menurut mereka, Hinata itu jauh lebih lemah dan tidak berpengalaman dibanding pendahulunya. Yang lebih parah lagi, mereka mengirim Hinata ke Tempest tanpa izin dari sang Putri. Mereka berencana mengirim Venus, Saturnus, dan Matahari untuk menghibur sang Putri nanti kalau dia marah. Ternyata, selama ini Tujuh Orang Bijak ini punya agenda tersembunyi. Mereka menganggap Hinata hanyalah 'barang dagangan yang rusak'. Kalian tahu nggak? Ada fakta mengejutkan tentang tubuh Hinata. Ternyata tubuh Hinata itu berhenti tumbuh sejak dia berusia tujuh belas tahun, tepat dua tahun setelah dia bergabung dengan gereja. Meskipun dia sangat dicintai oleh para roh, hatinya itu hancur karena trauma masa kecilnya. Dia tidak bisa mencintai orang lain karena dia sendiri tidak pernah mendapatkan cinta saat masih kecil. Itulah alasan kenapa para bijak ini merasa Hinata tidak akan bisa berkembang lebih jauh lagi. Bagi mereka, Hinata hanyalah pion sekali pakai. Jika Hinata menang melawan Rimuru, itu bagus. Tapi jika dia kalah, mereka akan langsung mencuci tangan, menyatakan bahwa Hinata bertindak sendiri, dan kemudian mereka akan dengan tidak tahu malunya berpura-pura mengakui Federasi Jura Tempest sebagai negara monster yang sah demi menjaga posisi mereka. Bener-bener definisi ular berkepala banyak!
Sementara itu, di sisi lain, Rimuru akhirnya mendapatkan laporan yang sangat serius. Dia tahu bahwa Hinata Sakaguchi sudah bergerak menuju Tempest. Dan Hinata nggak main-main, dia membawa seratus Ksatria Templar bersenjata lengkap. Ini adalah ksatria-ksatria terkuat, bukan prajurit amatir. Rimuru merasa sangat menyesal dan kecewa. Dia berharap ada jalan untuk berdamai, tapi tindakan Hinata yang langsung membawa pasukan besar ini menutup semua pintu negosiasi. Rimuru merasa Hinata terlalu memaksakan keadilan versinya sendiri tanpa mau mendengar penjelasan pihak lain. Rimuru bahkan sempat merenung, apakah Hinata yang berasal dari Jepang modern itu nggak belajar sejarah tentang betapa banyaknya darah yang tumpah atas nama agama? Tapi Rimuru segera menepis pikiran itu. Baginya, sekarang bukan saatnya untuk bimbang. Jika Hinata menyatakan mereka sebagai musuh, maka Rimuru tidak punya pilihan lain selain menghancurkan mereka. Rimuru pun langsung memanggil para petinggi departemennya untuk rapat darurat. Di sinilah kemampuan Souei bener-bener ditunjukkan. Souei melaporkan bahwa dia sudah menyebarkan mata-mata, termasuk Souka dan tim ninjanya, ke berbagai wilayah strategis seperti Kerajaan Ingracia dan Farmas. Souei bahkan berhasil membangun jaringan informasi melalui 'Kekuatan Emas' atau penduduk asli untuk memantau pergerakan musuh. Ada hal yang mencurigakan, yaitu kecepatan perpindahan pasukan ksatria dari Kekaisaran Suci Ruberion ke Ingracia yang sangat tidak wajar. Mereka bergerak terlalu cepat, seolah-olah ada jalur rahasia atau bantuan sihir transportasi tingkat tinggi. Hinata sendiri terlihat memimpin pasukan itu, menunggangi kuda dengan gagahnya menuju Kerajaan Farmas. Rimuru menghitung bahwa dengan kecepatan seperti itu, pasukan Hinata akan sampai di perbatasan Tempest dalam waktu dua minggu. Suasana di ruang rapat Tempest bener-bener tegang, guys. Rimuru sadar bahwa ini bukan sekadar pertempuran biasa, melainkan ujian bagi kedaulatan negaranya. Persiapan tempur pun dimulai secara besar-besaran karena kali ini, sang Kapten Pengawal Kekaisaran sendiri yang turun tangan untuk melenyapkan mereka.
Kita lanjut cerita ke persiapan perang yang bener-bener bikin
merinding dari Rimuru Tempest. Bayangin aja, suasana di ruang pertemuan utama
Tempest itu lagi tegang-tegangnya, tapi di saat yang sama, kita bisa ngerasain
betapa hebatnya kepemimpinan Rimuru yang sekarang udah jadi Raja Iblis sejati.
Semuanya bermula dari laporan Souei. Bayangan Rimuru yang satu ini emang nggak
pernah ngecewain. Dengan wajah gantengnya yang selalu datar kayak tembok, Souei
mempresentasikan data intelijen yang dia dapet dengan kecepatan yang nggak
masuk akal. Rimuru sendiri sampe ngebatin, gila sih, Souei ini bener-bener bisa
diandalin. Data yang dibawa bukan main-main: 100 ksatria suci peringkat A di
bawah komando langsung Hinata Sakaguchi lagi bergerak menuju mereka. Ini bukan
pasukan kaleng-kaleng kayak 15 ribu tentara Farmas kemarin yang cuma menang
jumlah. 100 orang ini adalah elit dari yang paling elit, individu-individu yang
sanggup ngeratain satu negara sendirian. Rimuru sadar banget, kali ini dia
nggak boleh gegabah atau main bunuh diri dengan maju sendirian tanpa rencana
matang.
Di tengah ketegangan itu, terjadilah momen yang agak kocak
tapi juga nunjukin watak asli para bawahan Rimuru. Pas Rimuru nanya pendapat
para kepala departemen, tiba-tiba ada yang nyeletuk dengan entengnya, 'Gimana
kalau kita tebas aja semuanya?' Kalian pasti udah bisa tebak siapa yang ngomong
gitu. Yap, bener banget, itu Shion! Rimuru cuma bisa geleng-geleng kepala
sambil ngebatin kalau Shion ini emang agak idiot karena cuma mikirin hasil
akhir tanpa mikir prosesnya yang berisiko. Tapi untungnya, jenderal utama kita,
Benimaru, udah jauh lebih dewasa. Benimaru langsung nolak ide bar-bar itu. Dia
bilang kalau kita main hantam kromo, pasti bakal ada korban di pihak Tempest,
dan itu adalah hal yang paling dihindari Rimuru. Hakurou yang selama ini
ngelatih Benimaru pasti bangga banget liat pertumbuhan muridnya yang sekarang
udah bisa mikir taktis dan nggak sombong lagi.
Gabil juga nggak mau kalah, dia nawarin pasukan Hiryuu-nya
buat ngebom dari langit. Tapi lagi-lagi, strategi itu dipatahkan dengan logika
yang kuat. Musuh mereka adalah Templar, ksatria suci yang punya perlindungan
Roh. Serangan udara nggak bakal mempan nembus penghalang suci mereka. Gerudo
pun angkat bicara dengan suaranya yang berat dan tenang, dia siap jadi tameng
hidup dengan pasukan Orc High-nya. Rimuru dengerin semua pendapat itu dengan
seksama, tapi ada satu hal yang terus ngeganjel di pikirannya: dia nggak mau
ada korban jiwa, baik di pihaknya maupun di pihak ksatria suci. Kenapa? Karena
Rimuru tahu, para ksatria suci ini sebenernya adalah pelindung umat manusia.
Mereka adalah orang-orang yang mempertaruhkan nyawa buat jagain desa-desa dari
serangan monster liar. Kalau Rimuru ngebantai mereka semua, siapa yang bakal
jagain manusia di luar sana? Rimuru nggak mau memikul beban dosa karena membiarkan
manusia nggak berdosa mati dimakan monster gara-gara pelindungnya dia habisi.
Dilema Rimuru ini bener-bener dalem banget, guys. Dia pengen
banget ngobrol sama Hinata buat jelasin kalau dia bukan monster jahat, tapi dia
tahu Hinata itu keras kepala dan menganggap semua monster itu wabah yang harus
dimusnahkan. Jadi, Rimuru mutusin sebuah strategi yang bener-bener gila: menang
tanpa membunuh satu pun lawan! Rimuru mulai bagi-bagi tugas dengan tegas.
Gerudo dan pasukan Kuning bakal jadi garis pertahanan pertama di pinggiran
Tempest. Mereka tugasnya cuma nahan, nggak boleh ada satu ksatria pun yang
masuk ke kota. Benimaru bakal pegang kendali penuh atas pasukan Hijau, Merah,
dan Kuning sebagai cadangan strategis. Terus, unit Yomigaeri-nya Shion yang abadi
itu bakal jadi garda depan buat adu fisik. Biarpun mereka nggak menang, mereka
nggak bisa mati, jadi cocok banget buat bikin musuh capek dan frustrasi.
Nggak cuma itu, Gobuta dan pasukan Penunggang Goblin-nya
bakal dapet peran penting buat taktik tabrak lari. Mereka harus terus bergerak,
ganggu konsentrasi musuh, dan jangan sampe kejebak. Gabil dan Hiryuu-nya bakal
jadi penyelamat dari langit kalau ada unit darat yang kesulitan. Souei tetep di
bayang-bayang buat pantau situasi, dan Diablo... nah, ini yang ngeri. Diablo
dapet tugas buat ngawasin dari atas dan cuma boleh turun tangan kalau ada
ksatria yang kekuatannya bener-bener nggak masuk akal. Rimuru juga ngasih
instruksi keras ke Benimaru: kalau situasi bener-bener gawat dan peluang menang
nggak ada, mereka harus mundur ke pemukiman Orc High. Keselamatan warga Tempest
tetep nomor satu. Dan kalau Rimuru sendiri sampe kalah lawan Hinata, kartu as
terakhirnya adalah Veldora yang bakal turun tangan langsung.
Tapi tunggu dulu, ada satu masalah teknis yang bikin Rimuru
pusing, yaitu Penghalang Suci (Holy Barrier). Monster kayak mereka bakal loyo
kalau kena penghalang itu. Di sinilah kecerdasan Raphael, sang Raja
Kebijaksanaan, bermain. Raphael bener-bener percaya diri banget sama kekuatan
Rimuru, sampe-sampe Rimuru ngerasa Raphael ini agak terlalu sombong. Raphael
ngerancang sebuah 'perangkat' anti-penghalang. Alih-alih pakai cara rumit buat
hancurin penghalang dari luar, mereka bakal bikin 'terowongan' energi yang
diperkuat dengan Demon Steel. Terowongan ini bakal dijaga sama Veldora yang
sengaja disuruh ngelepas auranya buat ganggu kestabilan sihir suci lawan.
Dengan segala persiapan yang super mendetail ini, Rimuru menutup pertemuan
dengan satu perintah mutlak: 'Kembali dengan selamat!'. Suasana ruangan pecah
dengan teriakan kepatuhan para bawahannya yang bener-bener setia. Sekarang,
panggung udah siap, dan pertemuan kedua antara sang Raja Iblis dan Sang Penjaga
Suci tinggal menghitung waktu. Gila sih, kita bener-bener nggak sabar liat
gimana taktik 'tanpa membunuh' ini bakal jalan di lapangan nanti!
