Pengikut

Tensei Shitara Slime Datta Ken (WN) Chapter 117 Bahasa Indonesia

 Halo sobat BiliZone! Kembali lagi kita di alur cerita Tensura yang makin hari makin gila aja nih! Gak kerasa ya, setelah kita disuguhi pertarungan adu mekanik di turnamen kemarin, sekarang kita masuk ke babak baru yang gak kalah seru. Episode kali ini bener-bener bakal ngebahas gimana Rimuru mulai ngebangun ekosistem ekonomi yang jenius banget lewat Dungeon-nya. Bayangkan, sebuah labirin yang awalnya cuma tempat latihan, sekarang berubah jadi tambang emas yang bikin para petualang di seluruh dunia kena demam Dungeon! Gila banget kan?


Setelah Rimuru merombak total sistem ruang bawah tanahnya atas saran Masayuki—si pahlawan yang nasibnya mujur banget itu—Dungeon Tempest akhirnya dibuka lagi buat umum. Dan jujur aja, Rimuru awalnya sempat mikir kalau dia bikin tingkat kesulitannya terlalu gampang gara-gara ngikutin masukan Masayuki. Kalian tahu kan, Masayuki itu orangnya santai banget, jadi dia pengen Dungeon-nya lebih 'user-friendly'. Hasilnya? Para petualang yang tadinya bebal dan gak mau dengerin penjelasan (yang biasanya cuma mentok di lantai 2), sekarang bisa nembus sampai lantai 3 dengan kepala tegak. Tapi tunggu dulu, meski keliatannya gampang, mereka tetep aja gak bisa 'clearing' semudah itu. Pertanyaannya, kenapa mereka tetep nekat nyoba berkali-kali meski sering mati? Apa karena perintah raja? Apa karena harga diri? Oh, jelas bukan itu alasannya, sobat BiliZone. Alasan utamanya jauh lebih pragmatis dan bikin ngiler: ITEM DROP!



Semua ini bermula gara-gara Basson. Masih inget kan sama petualang sombong itu? Dia dapet drop senjata berupa 'Longsword' yang kualitasnya di luar nalar. Ternyata, pedang itu bukan buatan sembarang orang, tapi buatan muridnya Kurobee. Bayangkan, muridnya aja udah jago banget! Kalau di pasar normal, pedang kelas tinggi itu harganya bisa sepuluh kali lipat pedang biasa, dan pedang khusus harganya bisa lima puluh kali lipat! Bahkan tentara kerajaan pun susah dapetinnya. Begitu Basson pamer pedangnya sambil teriak-teriak sombong di depan umum, antusiasme para petualang langsung meledak. Ini teknik marketing yang jenius banget meski Rimuru sendiri gak nyangka Basson bakal jadi sales dadakan yang efektif banget buat Tempest.


Sekarang, para petualang yang tadinya cuma modal nekat mulai pake otak. Mereka mulai dengerin instruksi, latihan dulu di lantai satu, beli perlengkapan di kota Rimuru (yang otomatis nambah cuan buat Tempest), baru deh berani nantang lantai yang lebih tinggi. Lantai 3 sampai 5 itu kuncinya ada di pemetaan. Kalau mereka pinter gambar peta, mereka bisa lewat. Tapi masalahnya, di lantai-lantai berikutnya, kemampuan asli mereka baru diuji. Rumor soal item-item dewa di Dungeon Tempest ini nyebar kayak api di padang rumput kering. Petualang dari berbagai negara dateng berbondong-bondong, bikin antrian panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Ada satu hal yang bikin Rimuru agak kaget, yaitu munculnya kelompok petualang profesional dari Asosiasi Kebebasan. Mereka ini levelnya beda banget, guys. Mereka gak cuma bawa tukang pukul, tapi bawa tim lengkap: ada pemulung buat ngumpulin barang, ada ahli sihir, sampai ada tim khusus pengidentifikasi jebakan. Yang paling curang sih para pengguna sihir elemen. Mereka pakai roh buat nyari jalan pintas ke lantai berikutnya! Rimuru sempet protes ke Ramiris, tapi Ramiris cuma ketawa sambil bilang kalau itu artinya mereka disukai roh, jadi sah-sah saja. Ngeri banget emang kalau udah main hoki sama roh elemen!


Nah, di tengah kesuksesan ini, Rimuru ngumpulin para petinggi Dungeon: Veldora, Ramiris, dan tentu saja Masayuki. Suasananya udah gak tegang kayak kemarin. Veldora yang biasanya angkuh sekarang malah muji-muji Masayuki. 'Oi, Masayuki, kamu beneran laki-laki sejati ya!' kata naga gila itu. Masayuki yang dapet pujian tiba-tiba dari Veldora cuma bisa cengo dan bingung. Dia kayak lupa kalau Veldora itu naga yang ditakuti dunia gara-gara pas perkenalan pertama dia gugup setengah mati sampai pingsan. Rimuru akhirnya ngenalin ulang mereka. Ramiris pun gak mau kalah, dia langsung ngeklaim Masayuki jadi pengikutnya gara-gara Masayuki muji kecantikan labirin buatannya. Tapi plot twist-nya muncul di sini: Masayuki baru nyadar kalau yang dia ajak ngobrol santai dari tadi adalah Naga Badai Veldora dan salah satu Demon Lord, Ramiris! Begitu dia sadar, jiwanya kayak mau melayang keluar dari tubuhnya. Beneran deh, ketidaktahuan itu emang anugerah, kalau dia tahu dari awal mungkin dia udah kabur duluan.


Rimuru juga sempet nanya ke Masayuki soal gimana temen-temen setimnya mandang dia. Ternyata oh ternyata, meski Masayuki pengen matiin skill 'Chosen One'-nya, temen-temennya malah makin kagum. Mereka mikir, 'Wih, Masayuki hebat banget bisa negosiasi sama Demon Lord buat nurunin tingkat kesulitan Dungeon demi kesejahteraan petualang!'. Gila banget kan pengaruh skill keberuntungannya? Padahal aslinya Masayuki cuma pengen hidup tenang. Tapi ya sudahlah, yang penting bisnis lancar!


Bicara soal bisnis, Rimuru bener-bener menerapkan strategi 'Gacha' di sini. Dia minta bantuan Dryad dan para Trainee buat ngatur sistem item drop. Jadi gini teknisnya: monster-monster di lantai 6 ke atas itu 'dikasih makan' sampah-sampah peralatan atau material lewat sihir ruang angkasa. Pas monster itu mati, mereka bakal nge-drop item itu. Ini bikin para petualang ngerasa kayak dapet harta karun padahal itu aslinya barang-barang yang udah dipersiapkan Rimuru. Strategi ini sukses besar! Lebih dari seribu orang per hari dateng buat belanja dan nantang nasib di labirin.


Gak cuma soal pertarungan, Rimuru juga mikirin sisi kemanusiaan. Di lantai 95 yang udah jadi kota hutan, para Elf dan Treant mulai hidup damai. Mereka ngelola penginapan, bar, dan tempat istirahat buat para petualang yang capek. Bayangin, lagi asik-asik bertarung di Dungeon yang gelap, tiba-tiba nemu kota indah yang isinya Elf-Elf cantik dan udara segar. Ini sih bukan Dungeon lagi namanya, tapi surga dunia! Para Elf ini juga seneng banget bisa imigrasi ke sana karena mereka ngerasa aman di bawah perlindungan Rimuru dan Ramiris.


Puncaknya, rekor baru pecah! Kelompok Masayuki berhasil jadi tim pertama yang nembus lantai 10. Di sana mereka ketemu Boss pertama, si Ogre Lord (Peringkat B+). Pertarungannya intens banget, tapi ya karena ini tim Masayuki yang isinya orang-orang OP, Ogre Lord itu kalah juga. Dan boom! Item drop yang keluar adalah 'Ogre Axe' dan 'Ogre Shin Guard' kategori barang langka. Begitu berita ini kesebar, dunia petualang makin geger! Sistem Dungeon sekarang udah punya Save Point setiap 10 lantai dan Bos yang respawn tiap satu jam. Tapi ada aturannya: kalau udah menang lawan Bos, gak boleh balik lagi buat farming di sana supaya gak ada monopoli. Adil banget kan?


Di akhir cerita, nama Tempest bener-bener udah gak bisa dipandang sebelah mata lagi. Kota monster yang dulunya dianggap remeh, sekarang jadi pusat perhatian seluruh dunia sebagai 'Kota Labirin' yang penuh peluang. Rimuru cuma bisa senyum puas ngelihat pundi-pundi uangnya makin numpuk sementara Masayuki cuma bisa pasrah sama takdirnya yang terus-terusan dianggap pahlawan legendaris. Gila, plot twist-nya bener-bener di luar nalar! Gimana menurut kalian? Apakah Masayuki bakal sanggup bertahan di lantai yang lebih dalem? Atau jangan-jangan dia bakal ketahuan kalau aslinya cuma hoki doang? Kita tunggu kelanjutannya di chapter depan yang pasti bakal makin pecah!