Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal bedah tuntas babak baru yang bener-bener bikin gempar seluruh daratan di sekitar Hutan Jura. Bayangin aja, kabar tentang kekalahan telak seratus Ksatria Templar, yang katanya pasukan manusia terkuat di dunia, menyebar kayak api yang ditiup angin kencang. Nggak ada satu pun negara tetangga yang bisa duduk tenang setelah denger berita ini. Mereka semua syok, bingung, sekaligus ketakutan. Gimana nggak? Pasukan yang dipimpin langsung oleh Hinata Sakaguchi, sang ksatria jenius, ternyata bisa ditekuk lutut oleh negara monster yang baru seumur jagung. Dan yang paling gila, Rimuru sengaja membiarkan informasi ini bocor dengan cara yang sangat halus, seolah-olah dia pengen bilang ke dunia, Jangan macam-macam sama Tempest kalau kalian nggak mau nasibnya sama kayak Gereja Suci Barat.
Sekarang, kita geser fokus kita ke sebuah negara militer yang sangat kuat, yaitu Kerajaan Kurcaci atau Dwargon. Suasana di dalam aula pertemuan utama Dwargon bener-bener tegang, guys. Raja Gazelle Dwargo, yang kita tahu punya wibawa luar biasa, langsung mengumpulkan seluruh menterinya untuk rapat darurat. Bayangin sebuah ruangan besar yang dipenuhi pria-pria tua berjenggot tebal dengan ekspresi muka yang pucat pasi. Di tengah-tengah mereka, ada layar sihir yang memutar ulang rekaman pertempuran di Tempest. Mereka bedah setiap detiknya, setiap pergerakan unitnya, dan hasilnya? Bener-bener bikin mereka semua merinding sampai ke tulang. Para menteri ini sadar kalau tim intelijen mereka udah kecolongan besar karena meremehkan potensi Tempest. Mereka melihat gimana para eksekutif Rimuru, yang notabene adalah monster, bisa nge-counter strategi Ksatria Templar dengan sangat presisi. Itu bukan cuma sekadar adu otot, tapi sebuah pembantaian taktis di mana para ksatria suci itu kayak lagi menari di telapak tangannya Rimuru.
Salah satu hal yang bikin para menteri Dwargon geleng-geleng kepala adalah fakta kalau Rimuru berhasil menang tanpa membunuh satu pun ksatria. Ini gila banget, kan? Secara logika perang, jauh lebih gampang buat ngebantai musuh daripada melumpuhkan mereka semua tanpa ada korban jiwa. Tapi Rimuru milih jalan yang sulit itu cuma buat membuktikan satu hal: dia punya kontrol penuh atas medan tempur. Gazelle Dwargo, sambil menghela napas panjang, cuma bisa ngeliatin rekaman tanpa suara itu dengan mata yang tajam. Dia sadar kalau Rimuru bukan lagi slime kecil yang dulu dia kenal. Dia sadar kalau Slime yang satu ini sudah tumbuh terlalu cepat, melampaui segala ekspektasi yang pernah ada. Gazelle bahkan sempat mikir, Apa gue harusnya hancurin dia pas awal kita ketemu ya? Tapi pikiran itu langsung dia tepis, karena dia tahu kalau Rimuru adalah sosok idealis yang bener-bener pengen hidup damai sama manusia.
Di tengah hiruk pikuk perdebatan menteri yang ada yang setuju buat waspada dan ada yang ketakutan, Gazelle akhirnya berdiri. Seketika, ruangan yang tadinya berisik kayak pasar langsung hening total. Dengan suara berat dan penuh wibawa, Gazelle mendeklarasikan posisi resmi Dwargon. Dia bilang kalau mulai saat ini, Dwargon akan mendukung Rimuru dan Tempest sepenuhnya. Ini adalah keputusan politik yang sangat berisiko, tapi Gazelle percaya kalau masa depan dunia ada di tangan Rimuru. Belum selesai rasa kaget para menteri, tiba-tiba masuk sebuah laporan baru yang makin bikin suasana pecah. Ternyata, Rigurdo dari Tempest baru aja ngirim undangan resmi buat acara kenaikan takhta resmi Rimuru sebagai Raja Iblis baru. Dan nggak cuma itu, Rimuru juga berencana ngadain sebuah turnamen besar-besaran! Bester, peneliti kurcaci yang kerja di sana, juga ngirim pesan kalau kursi buat acara itu terbatas banget dan kota Tempest sekarang lagi diserbu turis. Gazelle cuma bisa senyum tipis sambil mikir, Ini raja iblis satu ini bener-bener nggak bisa ditebak maunya apa, ya.
Raja
Gazel Dwargo bener-bener lagi berjuang keras buat nahan tawa di depan para
menterinya. Mukanya yang sangar itu kelihatan kaku karena dia berusaha
mati-matian menjaga wibawa, padahal di dalam hatinya dia teriak, 'Kamu bajingan
Rimuru! Kamu bener-bener bikin aku menderita tapi aku suka kejutan ini!'. Gazel
tahu betul kalau Rimuru bukan sekadar monster biasa, dan pengumuman tentang
turnamen serta festival besar di Tempest ini adalah langkah politik yang sangat
jenius sekaligus gila. Akhirnya, dengan nada yang dibuat sedingin mungkin,
Gazel langsung mutusin kalau mereka bakal berangkat ke Tempest buat menghadiri
acara itu. Para menterinya kaget bukan main, tapi ya siapa yang berani nentang
keputusan sang Raja Kurcaci? Sementara itu, kita pindah ke tempat yang jauh
lebih indah dan penuh keajaiban, yaitu Dinasti Penyihir Sarion. Di sana ada
sebuah taman yang bener-bener di luar nalar indahnya, berisi tanaman langka
yang jadi sumber duit buat kerajaan tanpa perlu narik pajak dari rakyat. Di
taman inilah, Duke Elalude, ayahnya si petualang Ellen yang kita kenal kocak
itu, lagi duduk berhadapan sama sosok yang paling ditakuti sekaligus dihormati
di seluruh negeri. Dialah Permaisuri Elumeshia Elure Sarion. Penampilannya itu
lho, cantik banget dengan tubuh seperti gadis muda, kulit seputih salju, dan
rambut perak kebiruan yang panjang. Tapi jangan tertipu, dia itu Elf kuno yang
umurnya nggak boleh ditanyain kalau kalian nggak mau cari masalah. Elalude yang
biasanya berwibawa langsung ciut nyalinya di depan Elumeshia. Dia nyerahin
surat undangan dari Rimuru dengan tangan gemetar. Ternyata, Elumeshia ini
diam-diam ngefans banget atau lebih tepatnya iri sama perkembangan Rimuru. Dia
marah besar karena Elalude nggak ngajak dia pas Rimuru berevolusi jadi Raja
Iblis. 'Kamu bajingan, beraninya ninggalin tuanmu cuma buat liat lendir itu
sendirian!' kata Elumeshia dengan gaya yang sebenernya agak manja tapi
mematikan. Di mata publik, dia itu Permaisuri Boneka yang dingin, tapi di depan
Elalude, sifat aslinya yang penuh rasa ingin tahu keluar semua. Elumeshia
bener-bener penasaran sama Rimuru dan mutusin kalau dia harus ikut ke Tempest,
yang otomatis bikin Elalude pusing tujuh keliling karena harus nyiapin logistik
dan keamanan super ketat buat sang Permaisuri. Mereka sadar kalau Tempest yang
baru aja ngalahin pasukan Templar tanpa membunuh satu orang pun adalah kekuatan
yang nggak bisa diremehkan. Turnamen yang diadain Rimuru dianggap sebagai ajang
pamer kekuatan, dan Sarion nggak mau ketinggalan buat menilai seberapa bahaya
sebenarnya si slime ini. Nah, sekarang kita geser ke sisi yang lebih membumi di
Brumund. Di sana ada kawan lama kita, si pedagang licik tapi setia, Myormiles.
Dia lagi bosen banget karena setiap hari cuma didatangi penipu atau bangsawan
jatuh miskin yang mau nawarin bisnis sampah. Salah satunya adalah Count Kazak,
bangsawan sombong yang mau buka rumah bordil ilegal pake budak Elf. Myormiles
yang punya harga diri tinggi sebenernya muak banget, tapi dia harus tetep sopan
secara profesional. Pas ketegangan itu lagi memuncak, tiba-tiba... BRAKK! Pintu
ruangannya dibuka paksa. Masuklah sosok yang cantik banget, rambut perak, mata
emas, tapi auranya bener-bener beda. Myormiles langsung melongo, 'Hah?
Rimuru-danna?'. Dia kaget setengah mati karena Rimuru dateng tanpa topeng dan
kelihatan jauh lebih menawan (dan cantik, padahal cowok ya guys). Rimuru cuma
nyengir tanpa dosa dan bilang mau nunggu di toko Myormiles aja karena dia liat
lagi ada tamu. Kejadian itu langsung bikin Myormiles sadar kalau gelombang
besar dunia lagi bergerak. Dia nggak peduli lagi sama Count Kazak atau urusan
remeh lainnya. Baginya, satu senyuman dari Rimuru itu artinya peluang bisnis
triliunan dan perubahan sejarah dunia. Dia pun langsung ngosongin jadwalnya dan
lari ngejar Rimuru dengan semangat yang membara. Hari-hari membosankan Myormiles
resmi berakhir, dan petualangan besar di festival Tempest baru saja dimulai!
