Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal masuk ke sebuah babak pertempuran yang bener-bener gila dan bikin merinding, di mana kesombongan para ksatria suci bakal diuji langsung oleh salah satu bawahan terkuat Rimuru Tempest. Bayangin aja guys, suasana di medan perang itu bener-bener mencekam. Di langit yang tadinya tenang, tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang melompat sangat tinggi, seolah-olah dia sedang memantau mangsa dari singgasana langit. Sosok itu nggak lain adalah Shion. Mata Shion berkilauan, bukan mata ketakutan, tapi mata seorang predator, seorang ratu yang sedang pergi berburu mangsa yang dia anggap berharga. Dengan senyum yang nggak kenal takut dan aura kegelapan alias Haki yang luar biasa menekan, Shion meluncur turun dengan kecepatan tinggi menuju sekelompok ksatria yang dipimpin oleh seorang pria bernama Leonard. Nah, kalian harus tahu nih, Leonard ini bukan ksatria sembarangan guys. Dia ini bukan cuma Templar biasa, tapi dia adalah seorang Saint Wizard, seorang jenius yang sudah mencapai puncak sihir suci dan sihir elemen. Di dunia Tensura, gelar Saint Wizard itu cuma diberikan buat mereka yang bener-bener paham hukum dunia. Leonard ini punya gaya bertarung yang beda sama Arnaud yang kita bahas sebelumnya. Kalau Arnaud itu simbol kekuatan kasar dan daya tahan, Leonard adalah harmoni. Dia itu pendekar pedang sihir yang tekniknya mungkin setara atau bahkan lebih rapi dari Arnaud. Tapi ada yang menarik dari masa lalu Leonard ini. Ternyata, motivasi dia jadi sekuat sekarang itu berasal dari trauma masa kecilnya yang diselamatkan oleh seorang pahlawan. Dia terobsesi banget sama sosok pahlawan yang bisa menghancurkan monster cuma dengan satu tebasan pedang sederhana. Itulah kenapa dia mati-matian belajar sihir suci dan bahkan sampai kontrak sama roh cahaya. Dia bahkan nolak roh kegelapan karena menurut dia, pahlawan sejati itu nggak butuh kekuatan gelap. Tapi sayangnya, idealisme dia itu bakal segera berbenturan sama kenyataan pahit yang namanya Shion. Begitu Shion mendarat dengan anggun di tanah, debu-debu beterbangan, dan Leonard langsung sadar kalau monster di depannya ini bukan level receh. Dia ngerasain energi sihir yang sangat padat, bahkan dia sempat mikir apakah ini jangan-jangan Raja Iblis sendiri yang turun tangan. Tanpa buang waktu, Leonard yang panik tapi berusaha tenang langsung kasih perintah ke anak buahnya buat masang Penghalang Suci atau Holy Barrier. Dia pengen ngurung Shion dalam radius 20 meter supaya kekuatan sihirnya tersedot habis. Leonard ngerasa di atas angin karena biasanya monster nggak bakal berkutik di dalam penghalang ini. Begitu debu mereda, muncullah Shion dengan penampilan yang bener-bener mempesona tapi mematikan. Rambut ungu gelapnya terurai, kulit putihnya kontras banget sama baju zirah hitam legam yang dia pakai, dan dua tanduk di kepalanya jadi simbol kalau dia adalah Oni yang sudah berevolusi. Shion kemudian buka suara dengan nada yang sangat sombong tapi berwibawa, 'Namaku Shion. Pelayan pertama Rimuru-sama. Sekarang, tuan-tuan, dengarkan pesan tuanku: Ketaatan atau Kematian!'. Wah, gila nggak tuh? Shion langsung kasih ultimatum keras. Tapi ya namanya juga ksatria suci yang fanatik, mereka nggak bakal mau dengerin monster. Leonard malah marah dan nganggep Shion sebagai keberadaan najis yang harus dimurnikan. Dia langsung kasih perintah buat nembakin 'Holy Cannon' secara bertubi-tubi ke arah Shion. Di teori mereka, serangan suci itu nggak bisa diblokir sama monster. Tapi apa yang terjadi? Shion dengan santainya cuma bilang 'Apakah itu jawabanmu? Berarti aku akan membunuhmu' dengan ekspresi wajah yang seolah-olah dia lagi nanya 'Kok kalian bego banget sih nggak mau dengerin?'. Shion kemudian ngeluarin Odachi besarnya, Gorimaru, dan dengan gerakan yang bahkan hampir nggak bisa diikuti mata manusia, dia bukan cuma nangkis peluru sihir suci itu, tapi dia menyerap energinya ke pedang dan memantulkannya balik ke arah para ksatria! Leonard bener-bener syok berat melihat serangan suci yang seharusnya jadi kelemahan monster malah dimainin kayak bola pantul sama Shion. Di momen ini, Leonard mulai sadar kalau logika dunia yang selama ini dia pelajari sebagai Saint Wizard sama sekali nggak berlaku di depan Shion. Pertempuran ini baru aja dimulai, dan Shion baru saja menunjukkan sedikit saja dari kengerian yang sebenarnya dari bawahan Rimuru.
Salah satu ksatria yang tadi sempat dipukul Shion ternyata
masih hidup, tapi dia gemeteran hebat karena trauma psikologis. Leonard
sendiri, meskipun dia itu pemimpin yang tenang, mulai ngerasa ada yang nggak
beres. Dia melihat Shion masih bisa bergerak lincah di dalam 'Holy Field',
sesuatu yang secara teori itu mustahil! Bayangin aja guys, di dalam medan itu,
energi sihir monster harusnya terkuras habis, tapi Shion malah kelihatan kayak
cuma lagi olahraga pagi. Shion sendiri sebenarnya lagi kesel banget. Dia merasa
serangannya tadi nggak maksimal karena terhalang dinding transparan yang menyebalkan
itu. Dia bahkan sempat mencoba menggunakan kemampuan 'Spatial Travel' atau
perpindahan ruang, tapi ternyata skill itu sudah disegel oleh penghalang
Leonard. Di sinilah kesabaran Shion benar-benar habis. Dengan senyum yang
dipaksakan dan aura yang mengerikan, Shion tiba-tiba menawarkan negosiasi yang
bikin bulu kuduk merdiri. Dia bilang, 'Hei teman-teman, gimana kalau kalian
turunin penghalangnya? Aku janji nggak bakal bunuh kalian, bahkan aku bakal
kasih kalian makan masakan spesial buatanku sendiri!' Waduh, buat kita yang
tahu gimana rasanya masakan Shion, itu sih bukan tawaran, tapi ancaman hukuman
mati pelan-pelan ya! Tapi tentu saja, para ksatria yang sombong itu nggak tahu
dan malah menghina Shion. Mereka teriak kalau Shion cuma monster lemah yang
sedang terpojok. Mendengar itu, amarah Shion meledak. Dia mengambil sebuah batu
kecil seukuran kepalan tangan, dan dalam sekejap, batu itu dilemparkan dengan
kekuatan yang nggak masuk akal. Boooom! Terjadi ledakan hebat tepat di depan
wajah para ksatria. Untungnya, Leonard sudah menyiapkan penghalang fisik
tambahan, tapi guncangannya bikin mereka semua hampir jatuh tersungkur. Leonard
sadar, kalau mereka nggak segera menghabisi Shion sekarang, nyawa mereka semua
bakal melayang. Akhirnya, Leonard memutuskan untuk menggunakan kartu as-nya:
'Area Disintegration'. Ini adalah sihir suci tingkat tertinggi yang bahkan
Hinata pun harus berpikir dua kali buat menggunakannya karena butuh energi yang
sangat besar. Leonard memerintahkan semua anak buahnya untuk menyatukan
kekuatan roh mereka. Mereka membentuk formasi piramida cahaya setinggi 20 meter
yang mengurung Shion di tengahnya. Shion merasa ada bahaya besar, dia sempat
bergumam meminta perlindungan Rimuru-sama sebelum cahaya menyilaukan itu
menelan segalanya. Cahaya itu murni, putih, dan menghancurkan segala sesuatu
hingga ke tingkat molekul. Saat cahaya itu memudar, suasana jadi hening.
Leonard menghela napas lega, melihat hanya ada gumpalan daging yang terbakar di
tengah lapangan. Dia pikir Shion sudah tamat. Tapi kengerian yang sebenarnya
baru dimulai. Gumpalan daging yang tinggal batang tubuh tanpa kaki itu
tiba-tiba bergerak. Di depan mata kepala mereka yang melotot ketakutan, tubuh
Shion beregenerasi dengan kecepatan yang nggak masuk akal! Dalam kurang dari
satu menit, Shion kembali ke bentuk aslinya yang cantik tapi dengan tatapan
mata merah yang mematikan. 'Akan kutunjukkan rasa sakit dan ketakutan yang dua
kali lipat pada kalian, manusia sampah!' teriak Shion. Shion kemudian
mengaktifkan skill uniknya, 'Cook' atau Master Chef. Di sinilah letak
'curang'-nya Shion, guys. Skill ini bukan cuma buat masak, tapi bisa mengubah
hukum dunia atau kenyataan itu sendiri! Shion menebas para ksatria satu per
satu. Anehnya, meskipun kepala atau tangan mereka putus, mereka nggak mati.
Shion secara sengaja menetapkan kondisi 'cacat tanpa kaki' sebagai kondisi
normal bagi tubuh mereka menggunakan skill Cook-nya. Jadi, mau pakai sihir
penyembuh tingkat tinggi pun, kaki mereka nggak bakal balik lagi karena dunia
'menganggap' tubuh mereka memang harusnya nggak punya kaki! Leonard benar-benar
hancur mentalnya. Dia melihat anak buahnya tergeletak kayak potongan daging
yang disusun rapi tapi tetap sadar. Di akhir adegan, Shion berjalan mendekati
Leonard dengan suara yang manis tapi mematikan, 'Jadi, giliranmu selanjutnya?'
Leonard cuma bisa gemetar hebat, menyadari bahwa dia baru saja melepaskan iblis
yang jauh lebih mengerikan dari apa yang dia bayangkan.
