Pengikut

Tensei Shitara Slime Datta Ken (WN) Chapter 127 Bahasa Indonesia

 Halo sobat BiliZone! Kembali lagi kita di alur cerita Tensura yang makin hari makin gila aja nih! Gak kerasa ya, setelah kita disuguhi plot twist tentang loop waktu dan kebangkitan Chloe sebagai Pahlawan Sejati di chapter lalu, sekarang kita masuk ke babak yang bener-bener kocak tapi juga krusial buat masa depan Tempest. Chapter 127 ini bakal ngebuka sisi lain dari Rimuru dan para Demon Lord yang ternyata... kelakuannya gak jauh beda sama kita kalau lagi mabar! Bayangin aja, makhluk-makhluk paling ditakuti di dunia malah asyik 'nge-troll' petualang di labirin sendiri. Penasaran kan segokil apa? Yuk, kita bedah tuntas!


Cerita dimulai dengan adegan yang bikin kita melongo. Di lantai 24 Labirin Tempest, ada sekelompok petualang yang lagi keringat dingin. Di depan mereka, muncul sosok yang mereka sebut 'Meteor Merah'. Tanpa babibu, sebuah kilatan merah melesat dengan kecepatan yang nggak masuk akal! Si petualang yang tadinya waspada malah bengong, bahkan gak sadar kalau nyawanya sudah di ujung tanduk. Dan boom! Suara tawa melengking yang sangat familiar terdengar. 'Uwahahahaha! Jangan lengah, dasar bodoh!' Ya, itu adalah Milim Nava! Tapi tunggu dulu, dia bukan Milim dalam wujud aslinya, melainkan sebuah avatar 'Assassin' yang dia kendalikan. Gila banget kan? Seorang Demon Lord kuno malah main petak umpet mematikan di labirin.



Di saat para petualang yang tersisa panik dan mencoba berkumpul untuk bertahan, Rimuru yang mengendalikan avatar 'Ghost Wizard' bergumam dalam hati, 'Berkumpul itu kesalahan besar, bro.' Rimuru pun merapalkan sihir: 'Oh angin yang bertiup, putar menjadi Tornado dan tebas musuhku! Tornado Blade!' Sihir ini bukan Wind Blade biasa, tapi versi area yang jauh lebih boros mana namun efektif buat nyapu bersih musuh yang lagi berkerumun. Dan benar saja, Tornado itu mencabik-cabik mereka tanpa ampun. Rimuru menjelaskan secara teknis kalau mereka menggunakan strategi 'Invisible' di awal untuk mengurangi jumlah musuh satu per satu. Target utamanya? Tentu saja para support dan healer di barisan belakang agar musuh gak bisa recovery. Ini bener-bener taktik pro player yang kejam!


Para petualang yang tersisa mulai murka. 'Sial, Marja dan Nadja mati! Jean juga gak bernafas!' teriak mereka. Mereka mencoba merangsek ke barisan depan, tapi mereka lupa kalau di depan mereka ada dua tank paling badak di dunia. Veldora, yang menggunakan avatar kerangka emas (Skeleton) dari bahan Orichalcum, dan Ramiris yang mengendalikan 'Living Armor' raksasa dengan kapak mautnya, menghadang mereka sambil tertawa jahat. Veldora tertawa 'Kuahahahaha!' sementara Ramiris berteriak 'Kalian gak boleh lewat!'. Rimuru yang memantau lewat fitur analisis melihat HP (Hit Points) para petualang itu sudah di bawah 50%. Dia bener-bener memodifikasi tampilan pandangannya seperti UI game MMORPG agar lebih gampang ngasih instruksi. Plot twist-nya di luar nalar, ternyata selama ini Rimuru, Milim, Veldora, dan Ramiris sering mabar jadi bos rahasia di labirin mereka sendiri buat ngerasain gimana rasanya jadi 'monster jahat'!


Rimuru menjelaskan secara detail spesifikasi tim 'Mabar' mereka ini. Rimuru sendiri adalah Ghost Wizard yang terbungkus Aura Takut berwarna putih kebiruan. Veldora, karena dia punya selera yang unik, minta dibuatkan tubuh kerangka dari Baja Iblis dan Emas yang disuntik energi sihir padat—hasilnya adalah Skeleton Emas yang kekuatannya gak masuk akal buat ukuran monster lantai 24. Milim? Dia fokus 100% pada Speed dan Critical Hit, makanya dia dijuluki 'Meteor Merah' karena cuma meninggalkan bayangan merah saat membunuh musuh dari langit-langit. Sedangkan Ramiris, dia melampiaskan rasa irinya karena bertubuh kecil dengan mengendalikan zirah raksasa 'Moving Heavy Armor' yang mengayunkan Great Axe 'Grim Reaper'. Mereka berempat ini dikenal oleh para petualang sebagai 'Will of the Labyrinth', bos misterius yang jauh lebih ngeri daripada bos lantai asli!


Rimuru berdalih, 'Kami gak main-main ya, ini namanya penelitian!' Dia mengaku ingin mempelajari gaya bertarung para petualang, mempelajari skill ekstra baru, dan melihat taktik sihir orisinal manusia. Tapi jujur aja, kita semua tahu mereka cuma haus hiburan. Bahkan Rimuru curhat kalau di awal-awal mabar, mereka pernah konyol banget sampai mati gara-gara jebakan labirin mereka sendiri karena Ramiris ceroboh. Bayangin, naga sekelas Veldora mati konyol masuk lubang jebakan! Setelah mereka membantai party petualang tadi sampai jadi partikel cahaya, mereka sempat sombong dan mau menantang Gozurl (bos lantai 30), tapi ternyata mereka malah kena bantai balik karena level avatar mereka masih cupu. Akhirnya mereka 'farming' lagi di lantai 25-29. Benar-benar definisi kecanduan game!


Namun, keseruan itu harus berakhir saat Rimuru menerima notifikasi darurat dari clone-nya di kantor. Ternyata Hinata dan Demon Lord Ruminas sudah selesai bernegosiasi dan ingin membentuk aliansi. Rimuru pun buru-buru mematikan mode 'Auto' pada avatarnya dan kembali ke kantor. Tapi sialnya, di sana bukan cuma ada Hinata dan Ruminas, tapi juga ada Frey, mantan Demon Lord yang sekarang jadi pengawas Milim. Frey tersenyum manis, tapi auranya dingin banget. Dia langsung menatap Milim yang masih dalam mode 'habis main'. Frey bertanya dengan nada mengancam, 'Gimana PR-nya, Milim? Para penjaga sudah pingsan, kamu bisa jelasin ini?'.


Suasana langsung berubah mencekam buat para pelaku mabar ini. Milim gemetaran, wajahnya pucat pasi. 'Wah! Frey!! Ini... bukan gitu, aku bisa jelasin!' teriak Milim panik. Rimuru, Veldora, dan Ramiris yang melihat itu langsung melakukan pengkhianatan tingkat tinggi. Mereka pura-pura gak kenal! Rimuru bilang, 'Loh Milim, kalau ada kerjaan ya dikerjain dulu dong, jangan bikin kita repot.' Veldora dan Ramiris juga ikut menyudutkan Milim biar mereka gak kena semprot Frey. Milim sampai berkaca-kaca melihat teman mabar-nya malah jadi musuh dalam selimut. Akhirnya, Milim ditangkap oleh Frey, diangkat kerahnya kayak anak kucing, dan diseret pulang ke negaranya untuk dikurung belajar. Kasihan banget, tapi kocak parah!


Setelah Milim dibawa pergi, Rimuru merasa aman, tapi tiba-tiba Shuna muncul di belakangnya dengan senyum yang jauh lebih horor dari Frey. 'Rimuru-sama, tadi beneran penelitian kan?' tanyanya. Rimuru keringat dingin, sel otaknya bekerja 1000% buat cari alasan. Beruntung banget, tiba-tiba Fuze (Kepala Cabang Guild) datang membawa laporan soal investigasi Yuuki Kagurazaka. Rimuru langsung menjadikan Fuze sebagai 'escape goat' untuk kabur dari interogasi Shuna. Rimuru pun masuk ke ruang rapat dengan perasaan lega tapi juga tobat dalam hati, 'Duh, lain kali kalau mau mabar harus cari alasan yang lebih kuat nih.'


Ending chapter ini bener-bener ngasih kita gambaran kalau meski dunia di luar lagi panas karena ancaman Kekaisaran Timur dan intrik Yuuki, hubungan antara Rimuru, Hinata, dan Ruminas makin solid. Tapi di sisi lain, kita melihat betapa 'manusiawinya' para Demon Lord ini kalau lagi gak ada perang. Teori aku sih, hobi mabar Rimuru ini kedepannya bakal berguna banget buat ngembangin sistem keamanan Labirin yang lebih gila lagi, atau mungkin avatar-avatar ini bakal dipakai buat intelijen rahasia. Gimana menurut kalian? Apakah pengkhianatan Rimuru ke Milim itu tega banget atau emang langkah cerdas buat bertahan hidup dari kemarahan Shuna? Tulis di kolom komentar ya!