Pengikut

Tensei Shitara Slime Datta Ken (WN) Chapter 97 Bahasa Indonesia

 Halo guys, balik lagi dengan BiliZone di sini. Kali ini kita bakal bedah tuntas kelanjutan epik dari dunia Tensura yang bener-bener makin dalam intriknya. Bayangin aja, setelah ketegangan perang yang hampir meratakan segalanya, suasana tiba-tiba berubah drastis jadi jamuan makan yang penuh dengan alkohol. Rimuru sendiri sampai bingung, kok bisa-bisanya situasi yang tadinya hidup dan mati malah berakhir dengan dentingan gelas. Ada banyak banget wiski encer dan minuman keras lainnya yang disediakan, lengkap dengan es batu yang melimpah. Meskipun Rimuru pengen banget ngerasain sake khas Jepang, dia harus puas dengan apa yang ada, dan ternyata, minuman-minuman ini malah jadi favorit para Ksatria Suci yang tadinya sombong banget itu. Di tengah suasana setengah mabuk, Rimuru sempat berharap kalau rencana Kompetisi Seni Bela Diri Tempest bakal dilupakan karena semua orang sibuk minum, tapi ya namanya juga takdir, harapan itu cuma tinggal mimpi. Besoknya, hari yang bener-bener menentukan itu akhirnya datang juga. Ini adalah momen krusial di mana kelompok Hinata dan pihak Rimuru duduk satu meja buat ngebahas masa depan hubungan Tempest dan Gereja. Suasananya tegang banget, guys. Rimuru sadar betul kalau secara posisi, Tempest adalah korban yang menderita kerusakan paling berat, jadi dia nggak mau bersikap terlalu lembek cuma demi sopan santun. Dia harus tegas demi harga diri negaranya di masa depan. Menariknya, fokus tuduhan mulai digeser ke kelompok kriminal bernama Blood Shadow, yang ternyata jadi dalang di balik manipulasi ini. Meskipun para Ksatria Suci harus bayar ganti rugi perang, Rimuru itu orangnya visioner. Dia nggak cuma mikirin duit atau tanah yang lokasinya jauh dari jangkauan. Bagi dia, menjalin hubungan diplomatik dan persahabatan luar negeri itu jauh lebih berharga daripada segunung emas. Pertemuan itu dihadiri oleh para petinggi Tempest seperti Rigurdo yang sekarang tampil gagah sebagai Menteri, Benimaru sang Panglima, dan tentu saja Rimuru sendiri. Di sisi lawan, ada Hinata dan lima Kapten andalannya. Awalnya mereka cuma tukar informasi soal komoditas ekspor, tapi pas masuk ke konferensi utama, tensinya langsung naik. Rimuru mulai ngebahas soal invasi Gereja ke Kerajaan Farmas. Di sinilah momen yang bikin kita semua merinding. Hinata secara mengejutkan mengaku kalah dan mengakui kalau ajaran Gereja selama ini punya celah besar. Hinata bilang kalau selama ini dia cuma mau nyelamatin orang yang percaya sama Dewa, karena dia pikir kekuatan dia terbatas. Dia ngerasa arogan karena udah membatasi siapa yang pantas diselamatkan dan siapa yang nggak. Dengan senyum cerah yang jarang banget kita lihat, Hinata seolah dapet pencerahan kalau keadilan sejati itu harusnya mengulurkan tangan ke siapa aja yang berjuang buat hidup, bukan cuma pengikut dogmanya. Rimuru yang denger itu cuma bisa ngebatin kalau Hinata ini sebenernya orang yang terlalu serius dan kaku. Tapi, kejutan nggak berhenti di situ. Hinata buka kartu soal politik kotor di Kerajaan Suci Ruberius. Ternyata, penyerangan ke Tempest itu nggak dapet restu resmi dari hierarki tertinggi seperti Paus atau Raja Sage. Hinata ternyata cuma dijadikan pion yang bisa dibuang kapan aja oleh sosok-sosok misterius yang disebut 'Tujuh Orang Bijak Surgawi'. Buat nyelamatin muka Gereja dan Kerajaan Suci, Hinata mutusin buat mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Ksatria Pribadi. Dia bener-bener pasang badan sendirian supaya nggak ada perang lanjutan. Mendengar itu, Ksatria Suci seperti Arnaud akhirnya setuju kalau Rimuru dan monster-monsternya ternyata nggak jahat. Tapi, Wakil Kapten Leonard masih bimbang, karena kalau mereka mengakui Tempest, itu artinya seluruh dasar ajaran Gereja bisa runtuh seketika. Pertemuan ini bener-bener jadi titik balik yang emosional sekaligus penuh intrik politik yang bikin kita makin penasaran sama langkah Rimuru selanjutnya.



setelah tensi tinggi dan duel maut yang hampir meratakan segalanya, sekarang suasana malah jadi lebih tenang, tapi justru di sini informasi-informasi gila mulai terungkap satu per satu. Fokus utama Rimuru sebenernya simpel banget, dia cuma pengen ngelindungin rakyatnya. Dia nggak peduli apa yang bakal terjadi sama struktur organisasi Gereja, tapi dia sadar kalau Gereja hancur total, keamanan manusia di luar sana bakal kacau karena nggak ada lagi Ksatria Suci yang jagain mereka dari monster liar. Nah, di tengah diskusi yang berat ini, Leonard—salah satu Ksatria Suci yang mulai sadar kalau Tempest itu bukan tempat iblis jahat—ngasih sebuah ide yang jenius banget secara politik. Dia bilang, kenapa kita nggak umumin aja kalau penduduk Tempest itu bukan 'makhluk jahat'? Faktanya, Goblin, Orc, sampai Lizardmen itu sosoknya udah mirip manusia banget. Bahkan para Oni udah kayak Dewa tanah yang dipuja-puja. Jadi, kalau mereka diakui sebagai 'Demi-human' alias setengah manusia, ini nggak bakal nabrak doktrin Gereja. Strategi ini pinter banget, guys, karena dengan begitu Tempest bisa diperlakukan setara sama Kerajaan Kurcaci Dwargon. Rimuru pun setuju, dan akhirnya mereka draf kesepakatan kompromi yang bener-bener bakal ngerubah peta politik dunia. Nggak cuma itu, Rimuru dapet 'bonus' kompensasi yang bikin dia kegirangan. Dia dikasih peralatan eksperimental Gereja yang gagal, termasuk pedang patah Hinata dan Armor Roh yang udah rusak. Buat slime jenius kayak Rimuru, ini tuh harta karun! Dia langsung analisis pake Skill-nya dan dapet data berharga tentang atribut Suci. Meskipun Rimuru punya atribut kegelapan, dia yakin bisa modifikasi teknologi ini buat memperkuat pasukan Tempest. Nah, setelah urusan formal selesai, suasananya berubah jadi santai banget. Mereka makan-makan, guys! Hinata sampe shock pas ngelihat Rimuru bisa nyajiin Tempura, nasi putih, sampe Sashimi yang rasanya otentik banget kayak di Jepang. Hinata bener-bener kagum gimana caranya Rimuru bisa bangun lingkungan impian cuma dalam dua tahun. Tapi Rimuru dengan rendah hati bilang kalau ini masih awal. Dia punya rencana gila buat bangun jaringan jalan raya yang aman dan sistem komunikasi jarak jauh pake 'Comm-Gems' dan baja sihir. Pas Rimuru lagi semangat-semangatnya pamer rencana teknologi ini, Hinata tiba-tiba ngasih peringatan yang bikin bulu kuduk merinding. Dia bilang, 'Hati-hati, jangan terlalu maju, atau kamu bakal diserang Malaikat.' Di sinilah bom informasi meledak! Ternyata setiap 500 tahun sekali, ada yang namanya Perang Tenma Besar. Gerbang surga bakal kebuka, dan pasukan Malaikat bakal turun buat hancurin kota-kota yang teknologinya terlalu maju. Malaikat di dunia ini ternyata bertindak kayak 'polisi peradaban' yang benci kalau manusia atau monster terlalu pinter. Makanya, kerajaan-kerajaan besar kayak Ingrasia sengaja semunyiin teknologi mereka biar nggak jadi target pemusnahan. Rimuru yang denger ini langsung mikir keras, kenapa Malaikat benci banget sama kemajuan? Apakah mereka takut disaingi atau ada alasan lain yang lebih gelap? Pasukan Malaikat ini nggak main-main, jumlahnya bisa sampe satu juta personel dengan kekuatan individu peringkat B+! Di tengah obrolan serius itu, Rimuru dengan santainya nanya soal Clayman sambil makan keripik kentang yang gurih banget. Dia bilang, 'Oh, Clayman? Udah gue bunuh kok, jiwanya juga udah gue hancurin.' Sontak Hinata dan para Ksatria Suci langsung melongo nggak percaya. Clayman yang selama ini jadi ancaman besar ternyata diberesin Rimuru kayak hama biasa. Rimuru juga ngasih info kalau Clayman itu cuma pionnya Raja Iblis Kazaream yang kemungkinan besar ada hubungannya sama Yuuki Kagurazaka. Suasana makin tegang tapi seru karena mereka diskusiin konspirasi tingkat tinggi ini sambil terus nyemilin keripik kentang Rimuru. Hinata pun mutusin buat selidiki lebih lanjut soal Yuuki dan Asosiasi Kebebasan. Pertemuan ini akhirnya berakhir dengan damai. Hinata tinggal di Tempest selama beberapa hari buat ngerasain kedamaian di sana sebelum balik ke Ruberius. Mereka sepakat buat gencatan senjata permanen dan jalin hubungan persahabatan. Meskipun masalah sama Gereja udah beres, sekarang Rimuru harus bersiap sama ancaman yang lebih besar dari langit, yaitu para Malaikat yang bakal datang beberapa ratus tahun lagi, atau mungkin lebih cepet dari dugaan. Bener-bener sebuah babak yang ngebuka mata kita kalau dunia Tensura itu jauh lebih luas dan berbahaya dari yang kita kira, guys!